IHSG Hari Ini Anjlok 1 Persen, Ini Penyebab Mengejutkan di Tahun 2026

IHSG Hari Ini Anjlok 1 Persen, Ini Penyebab Mengejutkan di Tahun 2026
Foto: IHSG Hari Ini Anjlok 1 Persen, Ini Penyebab Mengejutkan di Tahun 2026. (Illustration by Pexels)

Kabar mengejutkan datang dari lantai bursa pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026 pagi. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali dibuka melemah, melanjutkan tren negatif yang terjadi sehari sebelumnya.

IHSG mengawali perdagangan di posisi 5.919,57, namun tak butuh waktu lama bagi indeks untuk merosot lebih dalam. Tekanan jual yang masif membuat indeks terkoreksi hingga 66,37 poin atau setara 1,12 persen ke level 5.874,70.

Pada sesi awal ini, pergerakan indeks terpantau fluktuatif dengan titik tertinggi sempat menyentuh angka 5.924,51. Sementara itu, level terendah yang sempat dicapai berada di posisi 5.873,00 seiring dominasi sentimen negatif di pasar.

Kondisi pasar secara umum masih terlihat lesu karena mayoritas emiten bergerak di zona merah. Berdasarkan data perdagangan, terdapat 334 saham yang mengalami pelemahan harga pagi ini.

Di sisi lain, hanya tercatat 107 saham yang mampu menguat, sementara 518 saham lainnya cenderung bergerak stagnan. Aktivitas transaksi di bursa juga terpantau cukup dinamis meskipun indeks tengah tertekan.

Nilai transaksi pada pembukaan sesi pertama mencapai Rp470,1 miliar dengan volume perdagangan sebesar 580,2 juta lembar saham. Frekuensi perdagangan tercatat telah dilakukan sebanyak 64.080 kali oleh para pelaku pasar.

Penurunan indeks yang terjadi secara beruntun ini turut memberikan dampak langsung pada nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia. Saat ini, total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menyusut hingga menyentuh angka Rp10.311 triliun.

Sebagai informasi tambahan, pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, IHSG tercatat anjlok sangat dalam sebesar 4,11 persen. Indeks parkir di level 5.941,07 setelah sebelumnya dihantam aksi jual bersih oleh investor asing.

Aksi jual tersebut nilainya mencapai hampir Rp1 triliun, yang menyebabkan sekitar 75 persen saham berakhir di zona merah. Tren pelemahan ini diprediksi masih akan membayangi pergerakan pasar sepanjang hari ini.

Faktor Pemicu Pelemahan Pasar Global

IHSG diprediksi masih akan menghadapi tantangan berat akibat berbagai sentimen besar, baik dari skala domestik maupun global. Melemahnya bursa saham Wall Street di Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama yang menekan pasar keuangan.

Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia serta penguatan nilai tukar dolar AS turut memberikan sentimen negatif bagi aset berisiko. Meskipun ekonomi AS masih terlihat tangguh, hal ini justru menimbulkan kekhawatiran terkait kebijakan moneter global.

Kondisi serupa juga terlihat di pasar saham kawasan Asia yang mayoritas bergerak melemah mengikuti tren global. Indeks Kospi di Korea Selatan terpantau mengalami koreksi sebesar 2 persen saat perdagangan kembali dibuka pasca libur.

Menariknya, indeks Kosdaq yang fokus pada saham berkapitalisasi kecil di Korea justru menguat lebih dari 2 persen. Sementara itu di Jepang, indeks Nikkei 225 juga turun 1,4 persen setelah sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi.

Indeks Topix di Jepang pun ikut melemah sebesar 0,91 persen akibat aksi ambil untung yang dilakukan oleh para investor. Hal ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian kondisi ekonomi global yang membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati.

Bursa Australia pun tidak luput dari tekanan dengan indeks S&P/ASX 200 yang tercatat turun sebesar 0,84 persen. Di Hong Kong, kontrak berjangka indeks Hang Seng berada di level 25.312, lebih rendah dari penutupan sebelumnya di 25.633,21.

Pertemuan Pemerintah dan Lembaga S&P Global

Di tengah kondisi pasar yang fluktuatif, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan langkah strategis. Beliau menerima kunjungan dari perwakilan lembaga pemeringkat internasional, Standard & Poor's (S&P) Global, di Jakarta.

Pertemuan yang berlangsung pada Rabu, 3 Juni 2026 tersebut dihadiri oleh Kim Eng Tan selaku Managing Director Sovereign Ratings S&P Asia Pasifik. Diskusi utama difokuskan pada prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.

Airlangga menjelaskan bahwa fokus pembicaraan berkaitan dengan daya tahan ekonomi nasional dalam menghadapi berbagai risiko global. Pemerintah berupaya meyakinkan lembaga pemeringkat tersebut mengenai solidnya fundamental ekonomi dalam negeri.

Pemerintah memanfaatkan momentum ini untuk memaparkan bahwa ekonomi Indonesia tetap kuat meski menghadapi tantangan eksternal yang berat. Tantangan tersebut meliputi ketegangan geopolitik hingga gangguan pada rantai pasok global.

"Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah situasi global yang masih penuh ketidakpastian," ujar Airlangga melalui keterangan resminya.

Menurut Airlangga, stabilitas ekonomi saat ini merupakan hasil dari kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang sangat terukur. Selain itu, kuatnya tingkat konsumsi domestik menjadi fondasi utama penopang pertumbuhan nasional.

Indikator positif ekonomi nasional yang disampaikan pemerintah :

  • Angka inflasi nasional yang hingga kini masih tetap terjaga dan terkendali dengan baik.
  • Realisasi investasi yang terus menunjukkan tren pertumbuhan positif di berbagai sektor strategis.
  • Program hilirisasi industri yang mulai memberikan kontribusi nyata terhadap nilai tambah produk nasional.
  • Kinerja sektor eksternal yang perlahan menunjukkan perbaikan signifikan di tengah krisis dunia.

Pemerintah juga memaparkan berbagai agenda strategis yang sedang dijalankan untuk menjaga keberlanjutan momentum pertumbuhan ekonomi. Langkah ini mencakup percepatan hilirisasi serta penguatan ketahanan pada sektor energi dan pangan.

Selain itu, pemerintah berkomitmen untuk terus meningkatkan daya saing sektor manufaktur agar lebih kompetitif di pasar internasional. Program-program ini merupakan bagian integral dari proses transformasi ekonomi Indonesia jangka panjang.

Upaya transformasi tersebut diharapkan membuat Indonesia semakin tangguh dalam menghadapi tekanan global yang datang sewaktu-waktu. Pemerintah tetap optimis bahwa prospek ekonomi nasional akan terus terjaga melalui reformasi struktural.

Pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan investor serta lembaga internasional. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan posisi ekonomi Indonesia tetap kuat di mata dunia meskipun pasar keuangan sedang bergejolak.

Artikel terkait

Rekomendasi