IHSG Anjlok 4 Persen Tertekan Rupiah, Analis Ungkap Dampak Terbaru 2026

IHSG Anjlok 4 Persen Tertekan Rupiah, Analis Ungkap Dampak Terbaru 2026
Foto: IHSG Anjlok 4 Persen Tertekan Rupiah, Analis Ungkap Dampak Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kontraksi cukup dalam pada sesi perdagangan Rabu siang. Tekanan besar terhadap pasar modal domestik ini dipicu oleh depresiasi nilai tukar rupiah yang kian merosot di hadapan dolar AS.

Hingga pukul 11.10 WIB di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG tercatat anjlok sebesar 255,71 poin atau setara 4,13 persen. Penurunan tajam ini membawa indeks parkir di level 5.939,71.

Dampak Kurs Rupiah Terhadap Pasar Saham

Analis dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengonfirmasi bahwa melemahnya mata uang Garuda menjadi faktor utama koreksi IHSG. Berdasarkan data terkini, rupiah sempat menyentuh angka Rp17.928 per dolar AS.

Pria yang akrab disapa Didit ini menyebutkan bahwa pelemahan rupiah memberikan sentimen negatif yang sangat signifikan. Hal ini menyebabkan aksi jual di pasar saham menjadi tidak terhindarkan.

Rincian data pergerakan pasar pada perdagangan sesi siang:

  • Posisi IHSG: 5.939,71 poin
  • Persentase Penurunan: 4,13 persen
  • Kurs Rupiah: Rp17.928 per dolar AS
  • Status Teknis: Fase downtrend (tren menurun)

Tabel berikut merangkum indikator utama yang memengaruhi kondisi pasar modal saat ini.

Indikator Ekonomi Nilai / Status Dampak ke Pasar
Penurunan IHSG 255,71 Poin Negatif
Nilai Tukar Rupiah Rp17.928,50/USD Sangat Signifikan
Minyak WTI 94,58 USD/Barel Mendorong Inflasi
Minyak Brent 96,72 USD/Barel Memperkuat Dolar

Data di atas menunjukkan adanya tekanan ganda dari faktor eksternal dan internal yang saling berkaitan. Lonjakan harga komoditas global turut memperburuk stabilitas nilai tukar nasional.

Saham Konglomerasi Menjadi Beban Indeks

Selain faktor kurs, Didit menjelaskan bahwa saham-saham grup konglomerat besar turut menekan pergerakan IHSG. Emiten-emiten tersebut memiliki bobot kapitalisasi pasar yang besar sehingga sangat memengaruhi arah indeks.

Banyak dari saham konglomerasi ini telah mengalami kenaikan pesat hingga terkena Auto Reject Atas (ARA) dalam dua hari sebelumnya. Kini, aksi ambil untung membuat saham-saham tersebut berbalik melemah signifikan.

Secara teknikal, pergerakan IHSG saat ini dinilai masih berada dalam fase downtrend atau tren menurun. Didit memperingatkan bahwa belum ada sinyal kuat untuk indeks berbalik menguat atau rebound dalam waktu dekat.

Belum terlihat tanda-tanda pembalikan arah yang valid menurut pantauan analisis pasar modal. Kondisi ini membuat para pelaku pasar cenderung bersikap waspada terhadap ketidakpastian yang ada.

Ketegangan Geopolitik dan Harga Minyak

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, turut menyoroti penyebab melemahnya rupiah dari sisi global. Ia menilai konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi dalang di balik menguatnya posisi dolar AS.

Ketegangan di wilayah tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, baik jenis WTI maupun Brent. Kenaikan harga energi ini secara otomatis memberikan tenaga ekstra bagi penguatan mata uang dolar.

Ibrahim merinci bahwa harga minyak WTI kini berada di level 94,58 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak jenis Brent crude oil merangkak naik menuju angka 96,72 dolar AS per barel.

Kondisi pasar global yang tidak menentu ini diprediksi akan membuat IHSG tetap volatil. Investor disarankan untuk terus memantau kebijakan suku bunga dan perkembangan harga komoditas energi dunia.

Artikel terkait

Rekomendasi