Saham perbankan besar mengalami penurunan signifikan di zona merah pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026). Para analis berpendapat, saham bank-bank besar ini akan pulih kembali ketika nilai tukar rupiah mengalami penguatan.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami penurunan paling tajam di antara bank besar lainnya. Saat ini, harga saham BBCA turun ke level Rp 5.525, terkoreksi sebesar 5,15% dibanding penutupan sebelumnya. Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 5,05% menjadi Rp 3.570, dan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 4,61% menjadi Rp 2.900.
Sebaliknya, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengalami penurunan paling kecil. Harga BMRI tercatat turun 2,88% menuju Rp 4.050. Aksi jual bersih oleh investor asing juga menyertai penurunan saham-saham bank besar.
Saham BBCA mencatatkan net sell terbesar dengan nilai Rp 686,16 miliar. Di tempat berikutnya, BBRI tercatat mengalami net sell sebesar Rp 427,54 miliar, sedangkan BBNI mencatat angka Rp 27,95 miliar. Di sisi lain, BMRI berhasil mencatatkan nilai beli bersih atau net buy dari investor asing sebesar Rp 72,14 miliar.
Menurut Nafan Aji Gusta, Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, pergerakan saham bank besar pekan ini sangat dipengaruhi oleh kurs rupiah. Kondisi kurs sangat berpengaruh terhadap minat beli investor asing terhadap saham bank besar.
Nafan berpendapat bahwa sektor perbankan sangat terkait dengan kondisi makroekonomi domestik. Sehingga, situasi kurs adalah faktor terbesar yang mendorong investor asing untuk menjual saham. Ia optimis bahwa saham perbankan besar akan mengalami pemulihan dalam waktu dekat.
Keyakinan ini didasarkan pada kinerja yang masih kuat dari bank-bank besar hingga April 2026. Nafan juga menyatakan bahwa BBCA dan BBNI sudah berada di tingkat valuasi harga yang menarik, sementara BBRI dan BMRI memiliki prospek baik berkat model bisnis yang mendukung.
Oleh karena itu, Nafan merekomendasikan investor untuk mengakumulasi saham bank besar ini secara bertahap. Ia menekankan bahwa sektor perbankan tetap menjadi salah satu pilihan utama bagi investor.