Hewan Liar Masuk Pemukiman Akibat Alih Fungsi Lahan Perkotaan

Hewan Liar Masuk Pemukiman Akibat Alih Fungsi Lahan Perkotaan
Foto: Ilustrasi Hewan Liar Masuk Pemukiman Akibat Alih Fungsi Lahan Perkotaan.

Kemunculan satwa liar seperti biawak dan ular di sekitar kawasan permukiman semakin sering ditemui dalam beberapa waktu terakhir. Fenomena ini menjadi indikasi kuat terjadinya kerusakan lingkungan serta menyempitnya habitat alami mereka di tengah kota.

Persoalan ini dibahas dalam diskusi bertajuk "Membedah Kontribusi Masyarakat Kota dalam Menjaga Biodiversitas" yang menjadi bagian dari acara Raksha Lokal Fest 2026 di M Bloc Space pada 22 Mei 2026, seperti dilansir dari Suara.

Diskusi tersebut mengangkat bagaimana fenomena kemunculan hewan liar di kawasan perkotaan menjadi tanda terganggunya keseimbangan ekosistem.

Kerusakan habitat akibat alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman dan pembangunan perkotaan merupakan salah satu faktor utama penyebab fenomena ini. Satwa liar terpaksa berpindah demi mempertahankan hidup mereka.

Head of Conservation Data Science di Javan Wildlife Institute, Tungga Dewi Hastomo Putri, menjelaskan bahwa perkembangan populasi hewan di perkotaan dipicu oleh perubahan kondisi lingkungan. Kondisi tersebut memaksa mereka beradaptasi dengan berpindah ke wilayah yang bisa menopang kehidupan, termasuk perkotaan dan permukiman.

"Jadi yang pertama itu bisa blooming karena habitatnya hilang atau mungkin karena pakannya semakin banyak," ujar Dewi.

Fenomena ini diperkuat oleh peningkatan jumlah penduduk perkotaan di Indonesia. Berdasarkan data Worldometer, sekitar 60,3 persen penduduk Indonesia kini tinggal di wilayah urban pada 2026, yang memicu meluasnya pembangunan kota dan menggerus habitat alami satwa liar.

Masuknya satwa liar ke lingkungan warga tentu menimbulkan risiko keselamatan, baik bagi manusia maupun bagi kelangsungan hidup hewan itu sendiri.

Perubahan Cara Hidup Satwa

Dampak buruk kerusakan ekosistem tidak hanya memicu kedatangan satwa buas, tetapi juga mengganggu cara hidup satwa perkotaan lain seperti bajing. Berkurangnya sumber pakan akibat ekosistem yang memburuk memaksa satwa-satwa tersebut melakukan adaptasi ekstrem.

Dewi menjelaskan bahwa perubahan pola makan menjadi salah satu bentuk adaptasi nyata yang kini mulai terlihat pada beberapa hewan di perkotaan.

"Jadi kalau bajing itu dia hewan omnivora. Namun, ketika makanannya hilang, buahnya hilang, maka dia terpaksa mengonsumsi daging," ungkapnya.

"Nah, itu suatu kondisi yang sebenarnya masih belum tahu juga, apakah baik jika dibiarkan," tambahnya.

Artikel terkait

Rekomendasi