Harga Minyak Dunia Melonjak ke US$94, Dipicu Ketegangan Israel-Iran 2026

Harga Minyak Dunia Melonjak ke US$94, Dipicu Ketegangan Israel-Iran 2026
Foto: Harga Minyak Dunia Melonjak ke US$94, Dipicu Ketegangan Israel-Iran 2026. (Illustration by Pexels)

Pasar energi dunia sedang mengalami gejolak besar setelah harga minyak mentah melonjak signifikan hingga 3,8 persen pada perdagangan Senin (1/6).

Kenaikan ini membawa harga minyak Brent menyentuh angka US$94,55 per barel sebagai dampak langsung dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kondisi ini dipicu oleh keputusan mendadak Iran yang menghentikan pembicaraan diplomatik dengan Amerika Serikat (AS).

Langkah tegas Teheran tersebut merupakan bentuk protes atas meluasnya operasi militer Israel di wilayah Lebanon baru-baru ini.

Pemerintah Iran menegaskan bahwa kedamaian di Lebanon menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata.

Selain faktor politik, situasi di lapangan semakin memanas akibat adanya aksi saling serang yang melibatkan kekuatan militer AS dan Iran.

Rincian Kenaikan Harga Minyak Dunia

Berdasarkan data perdagangan terbaru, instrumen minyak mentah utama mengalami lonjakan harga yang cukup tajam secara bersamaan.

Minyak mentah Brent mencatat kenaikan sebesar US$3,43 atau 3,8 persen, sehingga kini bertengger di posisi US$94,55 per barel.

Berikut adalah ringkasan harga minyak mentah di pasar internasional saat ini:

  • Brent Crude: Diperdagangkan pada level US$94,55 per barel dengan kenaikan 3,8 persen.
  • WTI (West Texas Intermediate): Melesat US$3,87 atau sekitar 4,4 persen menjadi US$91,23 per barel.

Data di atas menunjukkan tekanan besar pada sektor energi global akibat ketidakpastian jalur pasokan di wilayah konflik.

Tony Sycamore, seorang analis dari IG, mengungkapkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Wilayah ini merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dan gas dunia yang sangat rawan terdampak oleh ranjau atau gangguan militer.

Sycamore juga mencatat bahwa meskipun kesepakatan damai nantinya tercapai, pasokan minyak tidak akan langsung pulih dalam waktu singkat.

Kenaikan di awal Juni ini cukup kontras jika dibandingkan dengan kinerja pasar minyak sepanjang bulan Mei lalu.

Pada bulan sebelumnya, Brent dan WTI mengalami penurunan masing-masing sebesar 19 persen dan 17 persen karena lemahnya permintaan.

Penurunan tersebut bahkan tercatat sebagai yang terdalam sejak awal pandemi Covid-19 pada Maret 2020 silam.

Prospek Diplomasi dan Dampak Ekonomi

Harapan untuk meredakan ketegangan antara AS dan Iran kini kian menipis seiring meningkatnya intensitas konflik di Lebanon.

Padahal, Presiden AS Donald Trump sebelumnya berencana untuk memutuskan proposal perpanjangan gencatan senjata dalam waktu dekat.

Pihak Washington sebenarnya telah mengusulkan skema deeskalasi bertahap untuk menstabilkan kawasan Timur Tengah tersebut.

Namun, Iran bersikeras bahwa setiap perundingan harus melibatkan kepentingan Hizbullah dan kedaulatan Lebanon secara penuh.

Informasi mengenai proyeksi harga dan kondisi pasar di masa mendatang:

Lembaga/Sumber Proyeksi/Kondisi Keterangan Tambahan
Goldman Sachs Brent US$90, WTI US$83 Estimasi harga untuk kuartal IV mendatang.
Arab Saudi Pemangkasan OSP Kemungkinan penurunan harga jual resmi ke pasar Asia.
Pasar China & Eropa Permintaan Melemah Menjadi risiko utama yang menekan proyeksi harga global.

Tabel tersebut merangkum berbagai variabel yang akan memengaruhi pergerakan harga minyak dalam beberapa bulan ke depan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut macetnya diplomasi disebabkan oleh krisis kepercayaan terhadap Washington.

Ia menilai sikap Amerika Serikat sangat kontradiktif, terutama saat membiarkan invasi militer terus berlangsung di Lebanon.

Di sisi lain, Goldman Sachs memperingatkan bahwa gangguan pasokan akibat perang tetap menjadi ancaman yang bisa melambungkan harga kapan saja.

Meski permintaan di China dan Eropa sedang lesu, faktor keamanan di Timur Tengah tetap menjadi penentu utama arah pasar energi global.

Artikel terkait

Rekomendasi