Harga minyak mentah dunia kembali mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Jumat pagi. Tren pelemahan ini sekaligus memperpanjang tekanan koreksi yang terjadi sepanjang pekan ini.
Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv hingga pukul 09.35 WIB, minyak Brent yang menjadi acuan global kini berada di posisi US$92,74 per barel. Angka tersebut menyusut dari penutupan hari Kamis yang masih bertengger di level US$93,71 per barel.
Kondisi serupa juga menimpa minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat. Harga WTI merosot ke level US$87,8 per barel setelah sebelumnya sempat bertahan di angka US$88,9 per barel.
Perubahan Sentimen Pasar Energi Global
Penurunan harga yang terjadi saat ini mempertegas perubahan arah pasar energi global yang sempat bergejolak dalam dua pekan terakhir. Sebelumnya, volatilitas harga minyak sangat tinggi dengan kenaikan yang cukup drastis.
Sebagai perbandingan, pada 19 Mei 2026 lalu, harga Brent sempat melambung hingga menyentuh US$111,28 per barel. Sementara itu, minyak jenis WTI juga sempat mencapai puncak di level US$107,77 per barel.
Hanya dalam kurun waktu kurang dari dua pekan, harga Brent tercatat sudah anjlok hampir 17 persen. Di sisi lain, harga minyak WTI bahkan mengalami penurunan lebih dalam hingga melampaui 18 persen.
Koreksi tajam ini muncul seiring dengan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap peluang damai di Timur Tengah. Risiko perang Iran yang telah berlangsung selama hampir tiga bulan kini dinilai mulai mereda oleh para pelaku pasar.
Berikut adalah ringkasan perbandingan harga minyak dunia dalam dua periode terakhir:
| Jenis Minyak | Harga Puncak (19 Mei) | Harga Saat Ini (29 Mei) | Total Penurunan |
|---|---|---|---|
| Brent (Global) | US$111,28 | US$92,74 | Sekitar 17% |
| WTI (Amerika Serikat) | US$107,77 | US$87,80 | Sekitar 18% |
Data di atas menunjukkan betapa cepatnya perubahan harga komoditas energi setelah ketegangan geopolitik mulai menunjukkan tanda-tanda pendinginan. Pasar bereaksi sangat responsif terhadap kabar kesepakatan damai.
Harapan Damai Amerika Serikat dan Iran
Pemicu utama longsornya harga minyak adalah laporan mengenai potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara dikabarkan telah mencapai titik temu untuk memperpanjang masa gencatan senjata.
Kesepakatan ini juga mencakup rencana pembukaan kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Meski begitu, keputusan final masih menunggu persetujuan resmi dari Presiden AS, Donald Trump.
Selat Hormuz menjadi fokus utama dunia karena merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak mentah global. Selain itu, kawasan ini juga menjadi rute utama bagi pengiriman gas alam cair (LNG) ke berbagai negara.
Selama konflik berkecamuk, lalu lintas kapal di jalur tersebut menyusut drastis dan memicu kenaikan premi risiko. Kini, saat peluang damai terbuka, premi perang tersebut perlahan mulai menghilang dari struktur harga minyak.
Wakil Presiden AS, JD Vance, memberikan pernyataan optimis bahwa Washington dan Teheran sudah semakin dekat untuk mencapai kesepakatan. Walaupun demikian, ia mengakui masih ada beberapa isu teknis yang perlu diselesaikan.
Beberapa poin yang masih menjadi ganjalan dalam negosiasi tersebut berkaitan dengan stok uranium milik Iran. Selain itu, masalah program pengayaan nuklir Iran juga tetap menjadi fokus dalam pembahasan kedua belah pihak.
Adapun poin-poin utama yang memengaruhi dinamika pasar saat ini antara lain:
- Proyeksi berakhirnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk.
- Rencana pembukaan kembali akses navigasi penuh di Selat Hormuz untuk kapal tanker global.
- Penyusutan premi risiko geopolitik yang sebelumnya membuat harga minyak melonjak tajam.
- Kekhawatiran pasar yang mulai beralih dari isu pasokan ke arah stabilisasi ekonomi.
Poin-poin di atas menjadi alasan utama mengapa harga minyak mentah mengalami koreksi yang sangat dalam. Hilangnya kekhawatiran akan gangguan pasokan membuat investor mulai melepas posisi mereka pada aset komoditas energi.
Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, ayunan harga harian tercatat sangat ekstrem hingga mencapai US$6 per barel. Kondisi ini dipicu oleh tarik ulur informasi mengenai kepastian berakhirnya konflik di Timur Tengah.
Data Refinitiv menunjukkan bahwa pada pertengahan Mei, harga Brent masih sempat berfluktuasi di rentang US$102 hingga US$112 per barel. Namun, tren penurunan mulai tidak terbendung sejak tanggal 25 Mei hingga hari ini.