Harga minyak mentah dunia dilaporkan mengalami tekanan hebat baik secara harian maupun bulanan di akhir Mei 2026. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait akses jalur perdagangan energi.
Minyak mentah jenis Brent mencatatkan performa bulanan terburuknya dalam enam tahun terakhir. Para investor kini menaruh harapan besar pada potensi kesepakatan yang dapat membuka kembali Selat Hormuz secara penuh bagi distribusi energi global.
Analisis Penurunan Drastis Harga Minyak Dunia
Berdasarkan data dari CNBC pada Sabtu, 30 Mei 2026, harga Brent yang menjadi patokan internasional merosot lebih dari 19 persen sepanjang bulan Mei. Angka ini menandai periode terburuk sejak awal pandemi COVID-19 pada Maret 2020 silam saat ekonomi global sempat terhenti.
Kondisi serupa terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat yang anjlok hampir 17 persen di bulan yang sama. Penurunan tersebut merupakan kinerja bulanan paling lemah bagi WTI sejak April 2025.
Koreksi harga yang cukup signifikan ini berlanjut hingga perdagangan Jumat setelah adanya pernyataan resmi dari Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi rencana pertemuan di Ruang Situasi untuk menentukan keputusan akhir mengenai kesepakatan dengan Teheran.
Pada penutupan pekan tersebut, harga WTI terpantau turun 1,73 persen ke level US$ 87,36 per barel. Sementara itu, Brent juga melemah sebesar 1,77 persen dan bertengger di posisi US$ 92,05 per barel.
Tuntutan Amerika Serikat dan Kondisi Selat Hormuz
Meskipun negosiasi terus berjalan, Presiden Trump mengajukan sejumlah syarat ketat yang sebelumnya sering kali ditolak oleh pihak Iran. Salah satu poin utamanya adalah tuntutan agar Teheran berkomitmen penuh untuk tidak pernah memiliki senjata nuklir.
Selain masalah nuklir, Trump juga mendesak agar Selat Hormuz segera dibuka untuk lalu lintas kapal internasional tanpa hambatan dan tanpa biaya tol. Langkah ini dianggap krusial untuk menstabilkan rantai pasok energi dunia yang sempat terganggu akibat konflik di kawasan tersebut.
Trump juga menegaskan bahwa Republik Islam Iran harus bersedia melakukan pembersihan sisa-sisa ranjau di wilayah selat tersebut. Kewajiban lain yang diminta AS adalah izin untuk menggali dan menghancurkan cadangan uranium yang diperkaya di bawah lokasi serangan militer tahun lalu.
Di sisi lain, pejabat AS mengungkapkan bahwa para negosiator telah menyusun Nota Kesepahaman (MOU) berdurasi 60 hari. Dokumen ini bertujuan untuk memperpanjang masa gencatan senjata sekaligus memulai dialog mendalam terkait program nuklir Iran.
Meskipun draf MOU sudah disepakati oleh tim negosiasi, Presiden Trump masih memegang kendali penuh untuk menandatangani dokumen tersebut atau tidak. Informasi mengenai detail nota kesepahaman ini pertama kali dipublikasikan melalui laporan media Axios.
Dinamika Gencatan Senjata dan Konflik Militer
Sebelumnya, pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026, harga minyak dunia sempat bergerak fluktuatif namun berakhir terkoreksi. Penurunan tersebut terjadi setelah adanya sinyal kuat mengenai perpanjangan gencatan senjata antara Washington dan Teheran.
Harga Brent pada perdagangan tengah pekan itu turun 58 sen menjadi US$ 93,71 per barel. Sebaliknya, WTI sempat menguat tipis sebesar 22 sen ke level US$ 88,90 per barel sebelum akhirnya ikut tertekan sentimen global.
Ketegangan sempat memuncak ketika kedua negara dilaporkan saling melancarkan aksi militer pada Kamis pagi. Garda Revolusi Iran mengklaim telah menargetkan pangkalan udara milik Amerika Serikat sekitar pukul 04.50 waktu setempat.
Komando Pusat AS merespons dengan menyatakan bahwa Iran telah meluncurkan rudal balistik ke arah wilayah Kuwait. Namun, otoritas militer memastikan bahwa serangan rudal tersebut berhasil dicegat dengan sukses sebelum mencapai target.
Serangan-serangan ini dilaporkan terjadi setelah pasukan Amerika Serikat melakukan operasi terhadap situs militer Iran yang dianggap mengancam pelayaran komersial. Dalam operasi tersebut, sejumlah drone milik Iran juga berhasil dilumpuhkan oleh sistem pertahanan udara.
Perkembangan Diplomasi dan Stabilitas Kawasan
Harga minyak sebenarnya telah menunjukkan tren penurunan lebih dari 10 persen sejak 18 Mei lalu. Tren ini dimulai ketika Trump memutuskan untuk membatalkan rencana serangan militer demi memberikan ruang lebih bagi proses diplomasi.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa pembicaraan kedua negara telah menunjukkan kemajuan yang cukup berarti. Menurutnya, Presiden Trump lebih mengedepankan jalur diplomasi dan ingin memberikan kesempatan maksimal bagi keberhasilan negosiasi tersebut.
Amerika Serikat dan Iran memang telah berada dalam kondisi kebuntuan terkait kendali Selat Hormuz sejak April lalu. Situasi ini terus dipantau oleh para pelaku pasar minyak karena dampaknya yang sangat besar terhadap stabilitas harga energi global.
Televisi pemerintah Iran sempat mengklaim bahwa Teheran telah menyetujui draf awal nota kesepahaman untuk membuka kembali Selat Hormuz. Dalam draf tersebut, lalu lintas kapal komersial akan dikembalikan ke level normal seperti sebelum terjadinya konflik.
Namun, pihak Iran menegaskan bahwa pengelolaan lalu lintas di selat tersebut nantinya akan berada di bawah kendali bersama Iran dan Oman. Hal inilah yang kemudian memicu respons keras dari pihak Amerika Serikat.
Gedung Putih dengan tegas membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai informasi yang tidak benar. Trump kembali menegaskan posisinya bahwa tidak boleh ada satu negara pun yang secara sepihak mengendalikan jalur pelayaran internasional di selat tersebut.
Pandangan Pakar Terkait Pengendalian Selat Hormuz
Amos Hochstein, Penasihat Energi Senior untuk mantan Presiden Joe Biden, memberikan pandangan berbeda mengenai situasi di lapangan. Ia menilai bahwa para pemimpin di Timur Tengah sudah meyakini bahwa Iran secara efektif telah memegang kendali atas Hormuz.
Menurut Hochstein, terlepas dari apa pun isi kesepakatan resminya nanti, pengaruh Iran di wilayah selat tersebut akan tetap dominan. Pandangan ini didasarkan pada persepsi negara-negara di kawasan yang melihat posisi strategis Iran selama konflik berlangsung.
Berikut adalah ringkasan perkembangan harga minyak dunia di akhir Mei 2026:
- Penurunan Bulanan Brent: Mencapai lebih dari 19%, menjadi rekor penurunan terburuk dalam enam tahun terakhir.
- Penurunan Bulanan WTI: Merosot hampir 17%, performa paling rendah sejak pertengahan tahun 2025.
- Sentimen Utama: Negosiasi kesepakatan pembukaan Selat Hormuz dan perpanjangan gencatan senjata 60 hari.
- Ketegangan Militer: Aksi saling serang antara Iran dan AS yang sempat memicu volatilitas harga harian.
- Syarat AS: Tuntutan penghentian program senjata nuklir dan pembersihan ranjau di jalur pelayaran.
Citigroup dalam laporannya menyebutkan bahwa pasar minyak kini mulai menemukan titik keseimbangan baru. Para investor mulai mengesampingkan skenario terburuk mengenai gangguan pasokan seiring dengan semakin dekatnya titik temu antara Washington dan Teheran.
Meskipun ketidakpastian masih menyelimuti pasar keuangan, harapan akan kelancaran distribusi energi melalui Selat Hormuz memberikan sentimen positif bagi stabilitas harga. Pelaku pasar kini menunggu keputusan final dari Presiden Trump terkait pengesahan nota kesepahaman tersebut.
Berikut adalah perbandingan harga penutupan minyak mentah pada akhir pekan ini:
| Jenis Minyak Mentah | Harga Penutupan (US$) | Persentase Penurunan (%) |
|---|---|---|
| Brent (Internasional) | 92,05 per barel | 1,77% |
| WTI (Amerika Serikat) | 87,36 per barel | 1,73% |
Data di atas menunjukkan bagaimana respon pasar terhadap perkembangan terbaru di Ruang Situasi Gedung Putih. Ketegangan yang mulai mereda secara bertahap memberikan dampak langsung pada koreksi harga di pasar komoditas global.