Harga Internet Seluler Indonesia Masuk Jajaran Termurah di Dunia

Harga Internet Seluler Indonesia Masuk Jajaran Termurah di Dunia
Foto: Ilustrasi Harga Internet Seluler Indonesia Masuk Jajaran Termurah di Dunia.

Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) melaporkan bahwa tarif internet seluler di Indonesia telah mencapai tingkat yang sangat terjangkau pada Rabu (22/4/2026). Dilansir dari Teknologi, biaya layanan data kini berada di bawah batas dua persen dari total pendapatan bulanan masyarakat.

Data keterjangkauan ini merujuk pada porsi biaya internet terhadap pendapatan rata-rata atau GNI per kapita penduduk. Marwan O. Baasir, Direktur Eksekutif ATSI, menjelaskan bahwa secara internasional, layanan internet dikategorikan murah apabila harganya tidak melebihi ambang batas dua persen tersebut.

Kondisi ini berbeda dengan layanan internet kabel rumah atau fixed broadband yang bebannya masih relatif tinggi. Masyarakat rata-rata harus mengeluarkan kocek sekitar 6,1 persen dari pendapatan bulanan mereka untuk mengakses internet kabel di rumah.

Marwan menambahkan bahwa variasi harga layanan di lapangan juga dipengaruhi oleh daya beli masyarakat di masing-masing wilayah. Operator menyesuaikan kecepatan layanan, seperti menyediakan paket hemat 5 Mbps hingga 10 Mbps untuk daerah pedesaan.

"Itu yang terjadi di daerah, tergantung affordability atau kemampuan bayar masyarakatnya," ujar Marwan, Direktur Eksekutif ATSI.

Berdasarkan laporan Global Broadband Price League 2026, Indonesia menempati urutan ke-12 dari 214 negara dengan harga internet paling ekonomis. Di tingkat Asia Tenggara, Indonesia menjadi yang termurah kedua dengan tarif rata-rata US$10,66, berada tepat di bawah Vietnam.

Namun, efisiensi harga per Mbps di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Dengan rata-rata kecepatan 31,2 Mbps, biaya per Mbps mencapai US$0,34, jauh lebih mahal dari Singapura yang mematok US$0,08 per Mbps berkat kecepatan rata-rata yang mencapai 410 Mbps.

Heru Sutadi, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, mengamati bahwa rendahnya harga paket saat ini merupakan dampak dari persaingan ketat antaroperator. Perang tarif dan dominasi pelanggan prabayar telah menekan margin keuntungan perusahaan penyedia jasa telekomunikasi.

"Harga paket terlihat murah, tapi jika dihitung per Mbps atau stabilitas latensinya, Indonesia sering tertinggal," kata Heru, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute.

Menanggapi dinamika pasar tersebut, PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk. (XLSmart) menyatakan tetap fokus pada peningkatan kualitas jaringan. Perusahaan memilih strategi berbasis nilai untuk menjaga kepuasan pelanggan di tengah tekanan harga industri.

Hingga akhir 2025, pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) campuran XLSmart tercatat sebesar Rp39.500. Angka tersebut kemudian mengalami kenaikan menjadi Rp44.800 pada kuartal IV/2025 seiring dengan investasi berkelanjutan perusahaan.

Perbandingan Harga Internet di Asia Tenggara 2026
NegaraHarga Rata-rata (US$)Kecepatan Rata-rata (Mbps)
Vietnam10,24-
Indonesia10,6631,2
Singapura-410,0

Artikel terkait

Rekomendasi