Abdul Azis (45), seorang guru honorer di MI Nurul Islam 1, Penjaringan, Jakarta Utara, mengungkapkan beban ekonomi berat akibat upah bulanan senilai Rp 2 juta yang dinilai tidak layak pada Rabu (22/4/2026). Penghasilan tersebut terpaut jauh dari Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta yang mencapai Rp 5,7 juta, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Dedikasi Azis selama hampir sepuluh tahun sebagai guru Agama Islam dan pelatih kesenian hadroh belum membuahkan kesejahteraan finansial bagi keluarganya. Kondisi ekonomi yang sulit ini diperparah dengan hilangnya sepeda motor yang menjadi sarana transportasi utamanya untuk bekerja akibat dicuri di depan rumah.
"Kalau untuk uang segitu ya Rp 2 juta, mengingat kebutuhan di Jakarta, itu jelas kurang, sangat-sangat kurang," ujar Azis, Guru Honorer MI Nurul Islam 1.
Kebutuhan rumah tangga yang terus meningkat membuat pendapatan tersebut habis dalam waktu singkat, bahkan untuk keperluan pokok sehari-hari. Azis kini harus membiayai kebutuhan bayi yang baru berusia tujuh bulan di tengah keterbatasan dana.
"Yang sifatnya untuk kebutuhan sehari-hari saja kurang, seperti makanan pokok atau minyak sayur. Apalagi sekarang saya dikaruniai seorang anak yang baru usia 7 bulan. Susunya belum, pampers-nya, dan lain sebagainya," kata Azis, Guru Honorer MI Nurul Islam 1.
Guna menutupi kekurangan biaya hidup, Azis terpaksa mencari pinjaman uang demi memenuhi tuntutan ekonomi yang mendesak. Fenomena ini menurutnya menjadi realitas pahit yang harus dihadapi oleh banyak tenaga pendidik non-ASN di Indonesia.
"Nasib para guru honorer yang ada di Indonesia kekurangan ekonomi, bahkan mungkin barangkali untuk kebutuhan sehari-hari saja harus gali lubang tutup lubang," ujar Azis, Guru Honorer MI Nurul Islam 1.
Meskipun gaji Azis telah meningkat dari Rp 600.000 pada awal mengajar di tahun 2017, angka Rp 2 juta saat ini tetap tidak mampu mengimbangi laju inflasi. Untuk bertahan hidup, ia mengambil pekerjaan sampingan sebagai pelatih ekskul dan guru mengaji keliling hingga malam hari serta pada hari libur.
"Untuk menutupi kekurangan-kekurangan, kadang saya ikut kegiatan yang bisa menghasilkan uang. Seperti melatih Hadroh, itu ada yang dikasih Rp 50.000 sekali pertemuan, kadang juga bisa lebih. Ya kalau dihitung, mungkin barangkali lebih besar pengeluaran daripada pemasukan kali ya," ucap Azis, Guru Honorer MI Nurul Islam 1.
Sebagai pengampu mata pelajaran Akidah Akhlak hingga Seni Budaya, Azis berharap ada perhatian nyata dari pemerintah pusat. Ia meminta Presiden Prabowo Subianto dan instansi terkait untuk memprioritaskan perbaikan taraf hidup guru honorer yang menjadi ujung tombak pendidikan.
"Harapan kami sebagai guru pada pemerintah, khususnya untuk Bapak Presiden Prabowo dan kementerian terkait, harapan kami agar semua guru yang ada di negara kita ini tolong untuk disejahterakan, diprioritaskan," tegas Azis, Guru Honorer MI Nurul Islam 1.
Permohonan ini disampaikan agar para pemangku kebijakan melihat langsung perjuangan tenaga pendidik di lapangan yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan pokok. Azis menekankan pentingnya peran Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama dalam menangani isu kesejahteraan ini.
"Harapan kami sebagai guru, kepada pemerintah khususnya untuk Bapak Presiden Prabowo dan juga Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama, harapan kami agar semua guru yang ada di negara kita ini tolong untuk disejahterakan, diprioritaskan," tutur Azis, Guru Honorer MI Nurul Islam 1.