Kisah Guru Honorer Abdul Azis Peroleh Motor Baru Usai Viral Mengayuh Sepeda

Kisah Guru Honorer Abdul Azis Peroleh Motor Baru Usai Viral Mengayuh Sepeda
Foto: Ilustrasi Kisah Guru Honorer Abdul Azis Peroleh Motor Baru Usai Viral Mengayuh Sepeda.

Dedikasi tinggi ditunjukkan oleh Abdul Azis, seorang guru honorer berusia 45 tahun yang tetap setia mengajar meski harus menghadapi keterbatasan ekonomi. Kerja kerasnya dalam mencerdaskan siswa kini mendapat apresiasi luas setelah kisah kesehariannya mengayuh sepeda tua ke sekolah menjadi perhatian publik.

Dilansir dari Megapolitan, Azis kini tidak lagi perlu menempuh perjalanan jauh dengan sepeda setelah menerima hadiah berupa sepeda motor baru. Momen penyerahan bantuan dari relawan Gerak Bareng tersebut diwarnai isak tangis haru dari sang guru yang telah lama mendambakan kendaraan layak.

Kesulitan transportasi yang dialami Azis bermula pada November 2025 ketika sepeda motor miliknya hilang dicuri di kediamannya, kawasan Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat. Dengan gaji sebesar Rp 2 juta per bulan, ia mengaku berat untuk membeli kendaraan pengganti guna menunjang aktivitasnya mengajar.

Kondisi tersebut memaksa Azis menggunakan sepeda lipat milik keponakannya yang sudah berkarat untuk menuju tempat kerja. Setiap hari, ia menempuh rute berbahaya sejauh 6 kilometer menuju Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam 1 di Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, yang didominasi oleh truk kontainer besar.

"Kadang anak saya juga bilang, 'Abi hati-hati awas ada mobil besar, minggir dikit.' Bahkan kadang kami turun dari sepeda untuk menghindari mobil besar, jadi kami ambil jalan trotoar," kata Azis.

Tantangan fisik juga dirasakan Azis saat melewati tanjakan flyover Kamal Muara yang membuatnya terpaksa menuntun sepeda karena kelelahan. Meski terdapat layanan transportasi publik gratis seperti JakLingko, rute yang memutar dianggap tidak efisien karena membutuhkan waktu hingga satu jam perjalanan.

"Bayangkan kalau dari tempat saya tinggal saja kita harus ke Menceng dulu, kemudian dari Menceng kita ke arah Jalan Benda. Dari Jalan Benda kita kemudian baru naik yang ke arah Dadap-Kamal. Itu pun kita tidak sampai di sekolah, hanya sampai di Bundaran Kamal, lalu jalan 15 menit, total 1 jam lah," jelas Azis.

Beban Ekonomi dan Harapan Bagi Guru Honorer

Sejak mulai mengabdi pada 2017, pendapatan Azis mengalami kenaikan dari semula Rp 600.000 menjadi Rp 2 juta saat ini. Namun, nominal tersebut dirasa masih sangat kurang untuk mencukupi kebutuhan hidup di Jakarta, terlebih ia baru saja dikaruniai seorang bayi berusia tujuh bulan.

"Kalau untuk uang segitu ya Rp 2 juta, mengingat kebutuhan di Jakarta, itu jelas kurang, sangat-sangat kurang," tutur Azis.

Untuk menutupi kekurangan ekonomi keluarga, ia mengambil pekerjaan sampingan sebagai pelatih ekstrakurikuler hadroh dan mengajar ngaji setelah jam sekolah usai. Meski hidup penuh tantangan, cita-citanya menjadi guru yang tertanam sejak SMA membuatnya enggan meninggalkan profesi mulia ini.

"Walaupun barangkali guru itu mempunyai banyak keluh kesah, tapi jadi seorang guru itu sangat-sangat menyenangkan. Saya bisa berbagi ilmu kepada anak-anak bangsa, ini tugas yang mulia buat saya," ujarnya.

Meski kini telah memiliki motor, Azis berharap pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan rekan-rekan seprofesinya melalui peningkatan kuota sertifikasi dan akses karier yang lebih baik. Ia bersyukur atas bantuan dari para donatur yang telah meringankan beban mobilitasnya sehari-hari.

"Alhamdulillah ya, bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala ada orang baik yang banyak mau berpartisipasi sehingga bisa memberikan motor kepada saya. Saya sangat berterima kasih sekali dan juga sangat bersyukur sekali," ucap Azis.

Artikel terkait

Rekomendasi