Sistem penanganan bagasi di Terminal 1 Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) dilaporkan mengalami kerusakan teknis pada Sabtu (18/4/2026) yang menyebabkan ratusan penumpang tertahan hingga tiga jam saat menunggu barang bawaan mereka, sebagaimana dilansir dari Detik Travel.
Kepadatan parah terjadi di aula kedatangan setelah operasional sistem bagasi terhenti, menandai insiden kedua setelah gangguan serupa juga melumpuhkan bandara terluas di Asia Tenggara tersebut selama satu jam pada Maret 2026 lalu.
Sejumlah pengguna jasa bandara menyampaikan keluhan melalui platform digital akibat keterlambatan yang signifikan di Terminal 1. Salah satu penumpang, Kenc Low, membagikan informasi mengenai kepadatan di area pengambilan koper tersebut melalui grup Facebook publik Malaysia Airlines sekitar pukul 18.30 waktu setempat.
"Saya makan malam saat tiba di lounge dan ketika saya keluar, koper saya masih belum terlihat," tulis Low, seperti dikutip Channel News Asia, Senin (20/4/2026).
Menteri Transportasi Malaysia, Anthony Loke, memberikan respons tegas satu hari setelah kejadian dengan memerintahkan penyelidikan menyeluruh atas kerusakan fasilitas di gerbang utama negara tersebut. Loke memberikan peringatan keras bahwa kegagalan layanan pada infrastruktur vital tidak dapat diterima.
"Penumpang yang melakukan perjalanan melalui gerbang nasional kita berhak mendapatkan standar keandalan layanan yang jelas-jelas gagal dipenuhi oleh insiden ini," kata Loke, dikutip dari Malay Mail.
Menteri Transportasi kemudian menginstruksikan Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan untuk mengadakan rapat darurat guna meninjau ulang prosedur operasi standar (SOP). Fokus peninjauan meliputi efektivitas perencanaan kontingensi, pola komunikasi terhadap penumpang, serta kecepatan respons teknis yang dijadwalkan berlangsung pada Senin (20/4/2026).
Pemerintah juga mengerahkan Otoritas Penerbangan Sipil Malaysia (CAAM) untuk mengaudit insiden ini guna menentukan kemungkinan sanksi terhadap pihak pengelola bandara. Loke menegaskan bahwa tanggung jawab penuh atas operasional yang terganggu berada di tangan operator.
"MAHB, sebagai operator KLIA, akan dimintai pertanggungjawaban atas kerusakan ini. Sebuah gerbang nasional tidak bisa mentolerir kelalaian berulang seperti ini," ujar dia.