Persoalan klasik mengenai sulitnya akses permodalan bagi para pelaku usaha muda di Indonesia kini mendapatkan perhatian serius. Hal ini menjadi sorotan utama dalam debat calon Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI).
Anthony Leong, salah satu kandidat kuat Ketua Umum BPP HIPMI, mengusulkan sebuah solusi nyata berupa pembentukan Youth Development Bank. Gagasan ini disampaikan Anthony dalam rangkaian debat yang berlangsung di Bali pada awal Juni 2026.
Langkah tersebut diambil sebagai respon atas minimnya lembaga keuangan konvensional yang memberikan keberpihakan kepada wirausaha pemula. Anthony menilai, pengusaha muda seringkali terbentur aturan perbankan yang kaku saat ingin mengembangkan ide bisnis mereka.
Mendorong Pembentukan Lembaga Keuangan Khusus Pengusaha Muda
Anthony menekankan bahwa HIPMI memiliki peran strategis untuk mendorong lahirnya lembaga keuangan baru di Indonesia. Lembaga ini nantinya akan berfokus sepenuhnya pada pemberian pembiayaan produktif bagi para pengusaha muda di berbagai sektor.
Ia mengusulkan agar pemerintah mendukung pembentukan bank yang memiliki skema pembiayaan berbasis studi kelayakan atau feasibility study. Hal ini penting agar bisnis baru yang potensial tetap bisa mendapatkan kucuran dana meski belum memiliki aset yang kuat.
Rencana operasional Youth Development Bank yang diusulkan mencakup beberapa poin krusial:
- Memberikan akses pembiayaan yang berfokus pada potensi keberlanjutan bisnis di masa depan.
- Menerapkan sistem kurasi yang ketat dengan melibatkan pemerintah serta asosiasi pengusaha profesional.
- Menyediakan suku bunga yang kompetitif dan tetap sehat secara perhitungan bisnis perbankan.
- Mengurangi ketergantungan pada agunan fisik sebagai syarat utama pengajuan modal usaha.
Menurut Anthony, konsep bank ini tidak hanya soal memberikan pinjaman dengan bunga rendah kepada nasabahnya. Lebih dari itu, tujuannya adalah membangun ekosistem keuangan yang mendukung lahirnya generasi baru pengusaha nasional yang tangguh.
Melalui kurasi yang melibatkan asosiasi, diharapkan dana yang disalurkan benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak ekonomi yang nyata. Hal ini sekaligus menjaga agar rasio kredit tetap sehat dan berkelanjutan bagi lembaga tersebut.
Mengatasi Kendala Sistem Perbankan Konvensional
Saat ini, banyak inovasi bisnis dari anak muda yang terhenti di tengah jalan karena kendala modal. Sistem perbankan konvensional dinilai belum sepenuhnya ramah terhadap karakteristik bisnis rintisan atau pengusaha yang baru memulai langkahnya.
Anthony berpendapat bahwa ide-ide kreatif dan potensial tidak boleh mati hanya karena aturan agunan yang terlalu ketat. Perjuangan HIPMI ke depan adalah memastikan adanya jaminan akses permodalan yang nyata dan bisa dijangkau oleh semua kalangan.
Detail mengenai skema bunga dan mekanisme operasional yang diwacanakan adalah sebagai berikut:
| Aspek Pembiayaan | Ketentuan yang Diusulkan |
|---|---|
| Tingkat Suku Bunga | Sekitar 2 hingga 3 persen di atas angka BI Rate. |
| Dasar Penilaian | Kelayakan bisnis dan potensi dampak ekonomi nyata. |
| Pihak Pengurasi | Kolaborasi antara Pemerintah dan Asosiasi Pengusaha. |
| Target Utama | Pengusaha muda pemula di kota besar maupun daerah. |
Suku bunga yang diusulkan dianggap masih sangat terjangkau bagi para pelaku usaha pemula yang sedang berkembang. Di sisi lain, angka tersebut juga menjamin bank tetap memiliki ruang untuk berkembang sebagai lembaga finansial yang sehat.
Anthony juga menyoroti adanya ketimpangan distribusi modal yang selama ini lebih banyak berputar di kota-kota besar saja. Banyak pengusaha berbakat di daerah yang justru kesulitan mendapatkan dukungan dana untuk membesarkan skala usahanya.
Membangun Pusat Ekonomi Baru di Berbagai Daerah
Gagasan pembentukan Youth Development Bank diharapkan bisa menjadi motor penggerak ekonomi yang lebih merata di seluruh wilayah Indonesia. Dengan akses modal yang mudah, daerah-daerah diharapkan mampu melahirkan pusat pertumbuhan ekonomi baru secara mandiri.
Anthony percaya bahwa akselerasi regenerasi pengusaha nasional sangat bergantung pada kemudahan akses terhadap sumber pendanaan. Indonesia membutuhkan lebih banyak wirausaha produktif untuk menghadapi persaingan global serta memanfaatkan bonus demografi yang ada.
Ia mengingatkan bahwa jika akses modal hanya bisa dinikmati oleh segelintir kelompok saja, maka pertumbuhan pengusaha baru akan terus melambat. Padahal, peran pengusaha muda sangat vital dalam menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat struktur ekonomi nasional.
Hadirnya lembaga keuangan khusus ini juga dianggap sebagai solusi tepat dalam menghadapi era digitalisasi ekonomi yang serba cepat. Dengan dukungan finansial yang tepat, inovasi-inovasi dari anak muda Indonesia diharapkan mampu bersaing di kancah internasional.
Melalui visi ini, Anthony Leong berkomitmen membawa HIPMI menjadi organisasi yang tidak hanya sekadar wadah berkumpul. Namun, ia ingin HIPMI menjadi institusi yang mampu memberikan solusi nyata bagi tantangan permodalan yang dihadapi oleh anggotanya.