Pakar Ungkap Fenomena Parental Burnout Ancam Orangtua di Wilayah Urban

Pakar Ungkap Fenomena Parental Burnout Ancam Orangtua di Wilayah Urban
Foto: Ilustrasi Pakar Ungkap Fenomena Parental Burnout Ancam Orangtua di Wilayah Urban.

Fenomena parental burnout kini semakin marak dialami oleh orangtua di kawasan urban akibat ritme kehidupan yang cepat dan tekanan tinggi. Psikolog klinis senior Ratih Ibrahim menjelaskan kondisi ini sebagai kelelahan fisik, mental, dan emosional berkepanjangan pada Senin (20/4/2026), dilansir dari Megapolitan.

Kelelahan ekstrem tersebut sering kali disalahpahami sebagai rasa capek biasa, padahal dampaknya bisa membuat orangtua merasa tidak lagi mampu menjalankan perannya. Ratih Ibrahim, yang juga anggota Tim Ahli Kelompok Kerja Kesehatan Jiwa Kemenkes RI, membedakan antara lelah harian dengan burnout.

"Dalam aktivitas padat, kita pasti lelah. Itu manusiawi. Kita istirahat, energi kembali," ujar Ratih Ibrahim, Psikolog Klinis Senior.

Ia menegaskan bahwa burnout berada pada tingkat yang berbeda karena melibatkan perasaan tidak sanggup menjalankan tugas sebagai orangtua secara total. Kondisi ini membuat seseorang merasa telah mencapai titik buntu dalam pengasuhan.

"Orangtua merasa tidak sanggup menjalankan perannya. Bukan hanya capek, tapi sudah sampai titik tidak mampu," kata Ratih Ibrahim.

Ratih menguraikan tiga tanda utama burnout, yakni kelelahan terus-menerus sejak bangun tidur, munculnya jarak emosional dengan anak, dan perasaan tidak kompeten. Pada tahap jarak emosional, orangtua cenderung mengasuh anak tanpa keterlibatan perasaan sama sekali.

"Seperti ÔÇÿmode robotÔÇÖ. Tidak ada ikatan emosional, bahkan bisa merasa terganggu dengan anak," tutur Ratih Ibrahim.

Kondisi ini juga memicu munculnya perasaan gagal sebagai orangtua sehingga mereka sering membandingkan diri dengan orang lain. Jika dibiarkan dalam jangka panjang, burnout berisiko berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih serius.

"Kalau sudah sampai tahap berat, butuh bantuan dan penanganan serius," katanya.

Ibu diidentifikasi sebagai kelompok paling rentan karena peran sosial yang menempatkan mereka sebagai pengasuh utama dan sumber rasa aman pertama bagi anak. Ratih menyebutkan bahwa beban ganda bagi ibu yang bekerja sering kali memicu kelelahan yang tidak berkesudahan.

"Anak cenderung lekat dengan ibu. Ibu bukan hanya sumber makanan, tapi juga sumber rasa aman pertama," ujar Ratih Ibrahim.

Selain faktor peran, tekanan finansial juga menjadi pemicu karena biaya hidup yang tinggi menuntut kedua orangtua untuk bekerja. Hal ini sering kali tidak dibarengi dengan kesiapan emosional dalam menghadapi ekspektasi kehidupan berkeluarga yang tinggi.

"Hidup yang layak butuh biaya. Menjadi orangtua juga demikian. Butuh kesiapan finansial, bukan hanya emosional," kata Ratih Ibrahim.

Dampak burnout tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga merusak keterikatan emosional antara orangtua dan anak serta memicu konflik dengan pasangan. Ratih menekankan pentingnya kesadaran bahwa orangtua memiliki batasan manusiawi dan membutuhkan dukungan sosial.

"Karena kalau tidak ditangani, ini bukan hanya berdampak pada orangtua, tapi juga pada anak dan masa depan keluarga," ujarnya.

Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga, Tuti Budirahayu, menilai burnout lebih banyak dipicu oleh faktor struktural seperti jam kerja panjang dan perubahan struktur keluarga. Banyak keluarga di kota kini berbentuk keluarga inti tanpa dukungan keluarga besar.

"Dulu, keluarga besar menjadi bagian dari sistem pendukung. Sekarang, banyak keluarga hidup dalam bentuk nuclear family, sehingga beban pengasuhan sepenuhnya ditanggung suami-istri," ujar Tuti Budirahayu, Sosiolog.

Tuti menambahkan bahwa keterbatasan waktu menciptakan interaksi yang kaku antara orangtua dan anak, yang lebih banyak berisi perintah daripada kehangatan. Hal ini memunculkan rasa bersalah yang mendalam pada orangtua.

"Orangtua juga sering merasa tidak kompeten karena waktu bersama anak terbatas. Muncul rasa bersalah, gagal, dan tidak mampu," kata Tuti Budirahayu.

Standar orangtua sempurna yang sering ditampilkan di media sosial turut menambah beban psikologis. Ekspektasi yang sulit diwujudkan ini menurut Tuti terus direproduksi sehingga menjadi tekanan bagi para orangtua urban.

"Padahal konsep orangtua sempurna itu sulit diwujudkan. Tapi standar itu terus direproduksi, sehingga menjadi tekanan psikologis bagi orangtua," ujar Tuti Budirahayu.

Layanan Daycare sebagai Solusi

Daycare menjadi pilihan bagi pasangan bekerja untuk mengatasi keterbatasan waktu pengasuhan di rumah. Pengelola Trust DayCare, Martha Mulyadani, menyatakan bahwa keamanan dengan sistem pemantauan CCTV menjadi alasan utama orangtua memilih layanan tersebut.

"Biasanya mereka awalnya pakai asisten rumah tangga, tapi tidak cocok atau ditinggal. Sementara mereka tetap harus bekerja, jadi daycare jadi pilihan," ujar Martha Mulyadani, Pengelola DayCare.

Saat ini Trust DayCare mengasuh sekitar 38 anak dengan rasio pengasuh satu orang untuk tiga hingga lima anak. Martha menjelaskan bahwa layanan ini juga melatih kemandirian anak dalam hal mendasar seperti makan sendiri dan bersosialisasi.

"Orangtua bisa lihat langsung anaknya lagi apa, jadi lebih terpantau dibanding pengasuh pribadi di rumah," kata Martha Mulyadani.

Anak-anak biasanya mulai dititipkan sejak usia tiga bulan atau setelah masa cuti melahirkan berakhir hingga memasuki usia prasekolah. Martha menekankan bahwa pola asuh di daycare harus selaras dengan pola asuh di rumah agar anak tidak bingung.

"Di sini anak belajar mandiri. Misalnya minum sendiri, tidak selalu disuapi. Mereka juga belajar berbagi, antre, dan berkomunikasi," ujar Martha Mulyadani.

Meski membantu secara operasional, banyak orangtua yang datang ke daycare membawa rasa bersalah karena merasa melewatkan waktu bersama anak. Martha menegaskan bahwa daycare tidak bisa menggantikan keterlibatan emosional orangtua.

"Kalau di daycare diajarkan pola tertentu, di rumah juga harus sama. Kalau tidak, anak jadi bingung," katanya.

Ia juga menambahkan bahwa adaptasi anak biasanya membutuhkan waktu satu hingga tiga minggu. Sinergi antara orangtua dan pengelola daycare sangat diperlukan agar tumbuh kembang anak tetap optimal di tengah kesibukan orangtua.

"Banyak orangtua datang dengan rasa bersalah. Mereka merasa waktu anak lebih banyak dengan pengasuh dibanding dengan mereka," ujar Martha Mulyadani.

Keterlibatan langsung orangtua tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kedekatan emosional anak. Martha mengingatkan agar seluruh tanggung jawab pengasuhan tidak sepenuhnya dilepas kepada pihak ketiga.

"Orangtua tetap harus menyediakan waktu untuk anak. Karena yang dibutuhkan anak bukan hanya perawatan, tapi juga kedekatan emosional," ujar Martha Mulyadani.

Kerja sama yang baik akan memudahkan pengawasan terhadap perkembangan karakter anak sejak dini. Sinkronisasi aturan antara kedua belah pihak menjadi faktor penentu keberhasilan sistem ini.

"Kalau semuanya diserahkan ke daycare, itu tidak bisa. Harus ada sinergi," kata Martha Mulyadani.

Pengalaman Orangtua Urban

Sejumlah orangtua seperti Sesa (34) merasakan hidup sebagai rutinitas tanpa jeda antara pekerjaan kantor dan urusan domestik. Sesa mengaku kelelahan yang ia rasakan bukan hanya fisik, melainkan beban pikiran yang terus terbawa hingga waktu istirahat.

"Capeknya bukan cuma badan, tapi pikiran. Bahkan saat tidur pun saya masih mikir," ujar Sesa, Admin Keuangan.

Sesa sempat merasa kehilangan identitas diri karena seluruh waktunya hanya habis untuk bekerja dan mengurus keperluan anak-anaknya. Perasaan datar dan hampa sering kali muncul akibat tekanan yang bertubi-tubi.

"Saya pernah merasa hidup saya cuma kerja dan ngurus anak," kata Sesa.

Kondisi serupa dialami Dianova (36), seorang ibu tunggal yang harus berjuang sendiri sebagai pencari nafkah. Ia mengaku sering merasa kosong secara emosional karena kehabisan energi setelah bekerja seharian.

"Kalau saya capek, saya tetap harus jalan. Kalau saya sakit, saya nggak bisa rebahan," ujar Dianova, Ibu Tunggal.

Kurangnya tenaga untuk berinteraksi dengan anak setelah pulang kerja menjadi keluhan utama yang dirasakan oleh para orangtua tunggal. Interaksi berkualitas sering kali sulit terwujud ketika stamina sudah berada di titik terendah.

"Saya pulang kerja, anak ngajak ngobrol, tapi saya udah nggak punya tenaga," kata Dianova.

Melani (33), ibu bekerja asal Depok, juga menggambarkan beban mental yang besar karena harus berperan dalam segala aspek kehidupan keluarga. Hal ini diperparah dengan minimnya dukungan di lingkungan tempat tinggal.

"Capeknya bukan cuma fisik, tapi mental. Karena kita harus jadi semuanya," ucap Melani, Ibu Bekerja.

Artikel terkait

Rekomendasi