Sejumlah peneliti medis dan penyintas mengungkapkan fenomena kesadaran yang tetap aktif saat seseorang dinyatakan mati secara klinis melalui laporan yang dirilis pada Rabu, 15 April 2026. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa kematian bukan merupakan momen tunggal, melainkan sebuah proses biologis yang kompleks.
Fenomena yang dikenal sebagai Near-Death Experience (NDE) ini menjadi sorotan setelah berbagai studi menunjukkan pasien mampu mengingat kejadian secara akurat saat jantung berhenti. Dilansir dari Detik Health, pengalaman ini dialami oleh individu yang berhasil diselamatkan melalui proses resusitasi setelah sebelumnya tidak menunjukkan tanda vital.
Jeff Olsen merupakan salah satu penyintas yang mengalami kecelakaan fatal pada 1999 dan sempat dinyatakan mati secara klinis sebelum berhasil diselamatkan. Ia mendeskripsikan pengalamannya bukan sebagai kegelapan, melainkan sebuah kesadaran emosional yang sangat luas saat menyaksikan peristiwa dari ketinggian.
Kisah serupa dialami oleh Don Piper pada 1989 yang dinyatakan meninggal selama 90 menit setelah kecelakaan truk di Texas sebelum akhirnya sadar kembali. Selain itu, George Ritchie mencatatkan pengalaman serupa pada 1943 setelah dinyatakan meninggal selama sembilan menit akibat penyakit pneumonia berat yang dideritanya.
Perspektif ilmiah mengenai fenomena ini diperkuat oleh studi ahli jantung Belanda, Pim van Lommel, yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet pada 2001. Penelitian terhadap pasien henti jantung tersebut menemukan bahwa sekitar 18 persen pasien melaporkan pengalaman keluar dari tubuh dan melihat cahaya terang.
Sam Parnia melalui studi AWARE dalam jurnal Resuscitation tahun 2014 menegaskan bahwa sebagian pasien memiliki memori visual yang detail mengenai prosedur medis yang dilakukan saat mereka mati klinis. Sementara itu, peneliti Bruce Greyson menyebut bahwa pola pengalaman NDE yang serupa menunjukkan kemungkinan kesadaran tidak sepenuhnya dihasilkan oleh fungsi otak semata.