Kenali 9 Fakta Menarik Dataran Tinggi Dieng yang Memikat Wisatawan

Kenali 9 Fakta Menarik Dataran Tinggi Dieng yang Memikat Wisatawan
Foto: Ilustrasi Kenali 9 Fakta Menarik Dataran Tinggi Dieng yang Memikat Wisatawan.

Dataran Tinggi Dieng konsisten menjadi destinasi favorit bagi pelancong yang mencari perpaduan keindahan alam dan nilai sejarah. Kawasan yang berada di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut ini menyuguhkan pemandangan magis yang menghubungkan bumi dengan langit.

Dilansir dari Detik Travel, Dieng sering dijuluki sebagai "Negeri di Atas Awan" karena hamparan permadani hijau yang kerap diselimuti kabut tipis. Selain udara sejuk, fenomena embun upas yang menciptakan kristal es di dedaunan menjadi daya tarik musim dingin yang unik di khatulistiwa.

Jejak kejayaan Wangsa Sanjaya masih terpancar melalui gugusan candi batu yang berdiri kokoh di tengah dataran luas. Memasuki wilayah ini bukan sekadar perjalanan geografis, melainkan sebuah pengembaraan spiritual melintasi ruang dan waktu.

Nama Dieng berakar dari bahasa Sanskerta 'Die Hieyang' yang berarti indah dan langka. Secara harfiah, 'Di' berarti tempat tinggi dan 'Hyang' merujuk pada dewa-dewi, sehingga Dieng dimaknai sebagai tempat persemayaman para dewa.

Kawasan ini terletak di ketinggian rata-rata 2.090 mdpl dan dikelilingi oleh pegunungan. Lokasi administratifnya terbagi menjadi dua wilayah, yakni bagian barat masuk Kabupaten Banjarnegara dan bagian timur berada di Kabupaten Wonosobo.

Bentang alam Dieng dipagari oleh Gunung Prau, Pangonan, dan Pakuwojo. Selain itu, posisinya berdekatan dengan dua gunung legendaris yang dikenal sebagai "si kembar", yaitu Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Desa Tertinggi dan Aktivitas Vulkanik

Di kawasan ini terdapat Desa Sembungan yang merupakan pemukiman tertinggi di Pulau Jawa dengan elevasi 2.300 mdpl. Desa ini pernah meraih prestasi sebagai salah satu Desa Terbaik pada Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.

Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Dieng memiliki 22 kawah aktif yang tersebar di Banjarnegara, Wonosobo, hingga Batang. Beberapa kawah utama di antaranya adalah Kawah Timbang, Sinila, Sileri, dan Sikidang.

Kawah Timbang, Sinila, dan Sikidang mendapatkan perhatian khusus karena potensi emisi gas beracunnya. Kawah-kawah ini berdampingan dengan telaga berwarna-warni yang menciptakan harmoni alam yang tenang namun aktif secara geologi.

Fenomena Embun Es dan Budaya Anak Gimbal

Fenomena mirip salju yang sering viral di Dieng sebenarnya merupakan embun es atau frost. BMKG menjelaskan bahwa hal ini terjadi saat suhu udara merosot tajam hingga titik beku, mengubah embun menjadi kristal es pada puncak musim kemarau.

Sisi budaya Dieng diperkuat dengan keberadaan anak bajang atau anak berambut gimbal. Rambut gimbal ini tumbuh secara alami dan hanya boleh dipotong melalui ritual penyucian khusus yang disebut ruwatan dalam acara Dieng Culture Festival.

Masyarakat setempat meyakini anak-anak ini adalah titisan leluhur agung, yakni Kyai Kolodete dan Nyai Dewi Roro Ronce. Sebelum ruwatan, anak tersebut biasanya mengajukan permintaan khusus yang wajib dipenuhi agar prosesi berjalan lancar.

Pusat Peribadatan dan Candi Hindu

Sebagai tempat yang dipercaya sebagai hunian para dewa, Dieng telah lama menjadi pusat peribadatan umat Hindu. Hal ini dibuktikan dengan penemuan deretan candi beraliran Hindu Siwa yang mengadopsi nama-nama tokoh epos Bharatayuddha.

Bangunan suci yang ditemukan meliputi Candi Arjuna, Semar, Srikandi, Puntadewa, Sembadra, Gatotkaca, Dwarawati, hingga Candi Bima. Pada masa kejayaannya, gugusan candi ini digunakan untuk memuja manifestasi Trimurti di tengah kawah raksasa purba.

Artikel terkait

Rekomendasi