Seekor ular King Cobra dengan panjang mencapai empat meter menyusup ke area kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jalan Puspiptek, Setu, Tangerang Selatan, pada Senin (11/5/2026). Hewan berbisa tersebut sempat bersembunyi di area toilet sebelum akhirnya berhasil ditangani oleh seorang ahli reptil.
Proses evakuasi predator melata ini memakan waktu sekitar 20 menit karena posisi ular yang berada di ruang sempit. Dilansir dari Megapolitan, keberadaan ular tersebut pertama kali diketahui pada Senin malam sekitar pukul 21.00 WIB di lingkungan gedung riset tersebut.
Pawang ular yang melakukan evakuasi, Teguh, menjelaskan bahwa dirinya langsung menuju lokasi setelah menerima laporan dari rekannya. Ia tiba di kantor BRIN sekitar pukul 21.05 WIB dan mendapati ular tersebut sudah berada di dalam gedung.
"Kurang lebih hampir 20 menit, kurang lebihnya ya kurang lebihnya. Karena memang posisi kan di dalam toilet," ujar Teguh saat dihubungi Kompas.com, Rabu (13/5/2026).
Sebelum Teguh sampai di lokasi, petugas keamanan setempat sempat mencoba memantau pergerakan ular tersebut. Namun, kerumunan orang di sekitar lokasi diduga memicu reaksi panik pada ular hingga hewan itu masuk ke area lobi dan berakhir di toilet.
"Jaraknya enggak terlalu jauh, sekitar lima menit sampai," kata Teguh memberikan keterangan mengenai durasi perjalanannya menuju lokasi kejadian.
Teguh menjelaskan bahwa pihak keamanan segera menutup akses pintu toilet untuk memastikan ular tidak melarikan diri ke ruangan lain. Saat memulai penanganan, ia menyebut karakter king cobra tersebut cukup reaktif terhadap kehadiran manusia.
"Ke dalam lobi dulu lalu setelah itu dia kabur masuk ke dalam toilet. Setelah masuk ke dalam toilet baru ditutup oleh anggota biar ularnya nggak ke mana-mana," kata Teguh menceritakan kronologi ular masuk ke gedung.
Ular dengan berat diperkirakan delapan kilogram tersebut terus menunjukkan perilaku agresif selama proses pemindahan. Teguh memutuskan untuk menggunakan peralatan keselamatan demi alasan keamanan dan edukasi bagi staf di kantor tersebut.
"Ularnya gede dan itu emang agresif banget, mengejar dia itu kan," jelas Teguh mengenai kondisi fisik ular tersebut.
Meskipun memiliki keahlian menangkap ular tanpa alat, Teguh sengaja memilih prosedur yang lebih aman di lingkungan perkantoran. Hal ini bertujuan agar para saksi di lokasi memahami pentingnya prosedur penanganan hewan berbahaya secara profesional.
"Memang tadinya enggak pakai alat, tapi saya pikir lebih safety pakai alat. Ini kan di kantor, jadi sekalian mengajarkan safety handling," jelas Teguh.
Kawasan Puspiptek yang masih dikelilingi vegetasi hutan dinilai menjadi faktor utama seringnya satwa liar muncul di area tersebut. Teguh mencatat bahwa insiden masuknya ular berbisa di lokasi ini bukan merupakan kejadian yang pertama kali ia tangani.
"King Cobra memang di sana banyak. Kalau saya sendiri sudah dua kali evakuasi di sana," kata Teguh terkait habitat asli ular di kawasan BRIN.
Guna menghindari terjadinya kecelakaan atau gigitan ular, Teguh memberikan peringatan kepada warga dan karyawan di sekitar lokasi. Ia menyarankan agar penanganan satwa berbahaya selalu diserahkan kepada tenaga ahli atau petugas terkait.
"Kalau ketemu ular yang enggak tahu jenisnya, lebih baik jangan ditangkap. Kalau di dalam rumah atau kantor, panggil petugas atau orang yang memang terbiasa menangani," ucap Teguh menutup keterangannya.