Eks Penjara Koblen yang merupakan bangunan cagar budaya di Surabaya kini mengalami alih fungsi menjadi pasar buah. Namun, kondisi bangunan bersejarah tersebut dilaporkan sangat memprihatinkan dan terkesan kumuh seperti dikutip dari Detik Travel.
Kawasan yang menjadi saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia ini tampak terbengkalai dengan aktivitas pasar yang belum beroperasi secara maksimal. Ironi terlihat pada instalasi listrik berupa kabel-kabel putih yang menjuntai semrawut dan hanya dililitkan pada tiang kayu keropos.
Di sekitar lokasi, tumpukan kain bekas dan sampah yang berserakan menandakan lesunya denyut ekonomi di pasar tersebut. Padahal, lahan seluas 3,8 hektare ini memiliki nilai histori tinggi yang dibangun Pemerintah Kota Surabaya sejak awal 1930-an.
Nama Koblen sendiri muncul dari pelafalan warga lokal terhadap kata Kobbelsteen. Istilah ini merujuk pada material batu alam ekspos berwarna kekuningan yang menjadi ciri khas tembok penjara tersebut.
Pengamat sejarah, Kuncarsono Prasetyo, menjelaskan bahwa kawasan ini awalnya merupakan penjara militer pada zaman kolonial Belanda. Memasuki masa pendudukan Jepang, fungsinya bergeser menjadi kamp interniran bagi tawanan perang warga Belanda.
"Itu awalnya penjara militer zaman Belanda. Pada masa Jepang, fungsinya berubah jadi kamp interniran untuk tawanan perang warga Belanda. Bahkan tokoh kita, Kiai Haji Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, pernah ditawan di situ," ujarnya, Minggu (19/4).
Setelah proklamasi kemerdekaan, lokasi ini difungsikan sebagai Rumah Tahanan Militer hingga tahun 1990. Kepemilikannya kemudian beralih ke pihak swasta, yang diikuti dengan hilangnya perlahan bangunan di balik tembok setinggi 3,5 meter tersebut.
Kritik Atas Konsep Adaptif Cagar Budaya
Mengenai alih fungsi menjadi pasar buah, Kuncarsono menilai langkah tersebut secara aturan diperbolehkan melalui konsep adaptif. Namun, ia menekankan pentingnya menjaga marwah dan nilai sejarah dari bangunan cagar budaya itu sendiri.
"Fungsinya bisa berubah, tapi bangunannya jangan. Di luar negeri banyak penjara jadi fungsi lain tanpa merubah bentuk. Masalahnya, pasar yang sekarang ini dianggap tidak sesuai blueprint, terkesan kemproh (jorok)," katanya.
Kuncarsono berpendapat seharusnya kawasan tersebut dikembangkan menjadi pasar wisata yang menarik. Ia menyayangkan kondisi saat ini yang mengabaikan nilai sejarah dan hanya memfungsikan lahan kosong tanpa memperhatikan estetika bangunan asli.
Kendala Operasional Sejak Pandemi
Toni, seorang warga setempat, membeberkan bahwa upaya penataan kawasan ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2021. Kendati demikian, operasional pasar masih menemui berbagai hambatan teknis hingga saat ini.
"Sudah diajukan lama sejak 2010. Masih lanjut sebenarnya. Kemarin mangkraknya itu gara-gara COVID," jelasnya.
Meski terlihat sepi pada siang hari, aktivitas di eks Penjara Koblen tidak sepenuhnya terhenti karena masih ada pedagang yang bertahan. Salah satunya adalah Slamet, yang mengaku menggantungkan hidup dari aktivitas perdagangan di kawasan milik swasta tersebut.
"Ya jualan sama nyopir juga, ada mobil pikap. Kalau saya dagang untuk kiriman luar pulau," tutur Slamet.