Kepala Badan Pengaturan (BP) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang juga menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, berencana melakukan perampingan besar-besaran di tubuh PT PLN (Persero). Sebanyak 21 anak usaha PLN masuk dalam daftar yang akan dipangkas dalam waktu dekat.
Langkah strategis ini ditargetkan dapat rampung sepenuhnya pada tahun 2028 mendatang. Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengoptimalkan kinerja perusahaan setrum milik negara tersebut agar lebih lincah menghadapi tantangan masa depan.
Dony Oskaria menegaskan bahwa perampingan ini memiliki tujuan yang sangat krusial bagi keberlanjutan bisnis PLN. Fokus utamanya adalah meningkatkan efisiensi operasional di seluruh lini perusahaan agar tidak ada tumpang tindih fungsi.
Selain efisiensi, perampingan ini diharapkan mampu memperkuat tata kelola perusahaan (corporate governance) menjadi lebih baik. Dengan struktur yang lebih ramping, PLN diharapkan dapat membangun fondasi bisnis yang jauh lebih fokus dan terintegrasi secara menyeluruh.
Menurut keterangan resminya pada Rabu (3/6/2026), Dony menjelaskan bahwa percepatan transformasi merupakan kunci utama dalam memperkuat keandalan sistem kelistrikan. Hal ini dianggap sangat penting untuk memastikan PLN tetap efektif dalam mendukung ketahanan energi di tingkat nasional.
Strategi Konsolidasi dan Divestasi Portofolio Bisnis
Keputusan besar ini diambil setelah adanya pertemuan antara Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara dengan jajaran Direksi PT PLN (Persero) pada Selasa (2/6/2026). Dalam rapat tersebut, Dony memaparkan beberapa langkah strategis yang harus segera ditempuh oleh manajemen PLN.
Upaya untuk memangkas jumlah anak usaha ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui perencanaan yang matang. Strategi yang akan diterapkan mencakup konsolidasi internal serta restrukturisasi pada berbagai portofolio bisnis yang saat ini dimiliki oleh PLN.
Langkah strategis perampingan anak usaha PLN meliputi:
- Melakukan konsolidasi unit usaha yang memiliki fungsi serupa agar lebih efisien.
- Menjalankan proses divestasi pada aset atau entitas yang tidak lagi sejalan dengan fokus utama perusahaan.
- Melaksanakan restrukturisasi menyeluruh terhadap portofolio bisnis guna memperkuat fundamental keuangan.
- Menyederhanakan struktur organisasi agar pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan lebih cepat.
Berbagai langkah di atas bertujuan untuk memastikan pasokan listrik nasional tetap terjaga dengan performa perusahaan yang jauh lebih sehat. Penyederhanaan ini juga menjadi cara PLN untuk memfokuskan sumber daya pada layanan inti yang berdampak langsung kepada masyarakat luas.
Progres Implementasi RUPTL dan Proyek Strategis
Di samping membahas mengenai restrukturisasi korporasi, pertemuan tersebut juga menjadi ajang evaluasi terhadap Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2025-2034. Progres pembangunan infrastruktur kelistrikan menjadi sorotan utama dalam laporan yang disampaikan.
Hingga saat ini, tercatat ada 1.634 proyek yang direncanakan dalam RUPTL tersebut telah mulai dijalankan. Angka ini setara dengan hampir 40 persen dari total keseluruhan proyek yang sudah masuk dalam tahap eksekusi di lapangan.
Berikut adalah rincian data terkait perkembangan proyek PLN:
| Kategori Informasi | Detail Proyek |
|---|---|
| Total Proyek Eksekusi | 1.634 Proyek |
| Persentase Capaian | Sekitar 40% dari total RUPTL 2025-2034 |
| Wilayah Prioritas | Sumatra, Jawa, Madura, dan Bali |
| Fokus Utama | Penguatan transmisi dan kapasitas pembangkit |
Data di atas menunjukkan komitmen PLN dalam mempercepat pembangunan infrastruktur energi meski di tengah proses transformasi internal. Fokus pembangunan tetap diarahkan pada titik-titik krusial yang membutuhkan penguatan daya dukung listrik secara signifikan.
Fokus Penguatan Sistem Kelistrikan di Sumatra
Salah satu poin penting yang menjadi perhatian dalam rapat tersebut adalah perbaikan sistem kelistrikan di wilayah Sumatra. Hal ini menjadi prioritas utama setelah adanya gangguan sistem atau blackout yang sempat terjadi di wilayah tersebut beberapa waktu lalu.
PLN saat ini terus melakukan evaluasi mendalam untuk mengidentifikasi titik lemah pada jaringan di Sumatra. Langkah-langkah penguatan sistem pun langsung dijalankan guna meminimalkan risiko kejadian serupa terulang kembali di masa depan.
Sejumlah infrastruktur pendukung sedang disiapkan untuk memperkokoh tulang punggung (backbone) kelistrikan di seluruh wilayah Sumatra. Hal ini mencakup pembangunan jaringan transmisi dengan tegangan yang bervariasi untuk memastikan distribusi listrik berjalan stabil.
Beberapa proyek infrastruktur yang sedang dikebut di Sumatra antara lain:
- Pembangunan jaringan transmisi tegangan tinggi dengan kapasitas 500 kV.
- Pengembangan jalur transmisi pendukung dengan kapasitas 275 kV.
- Perluasan jaringan distribusi listrik melalui kabel transmisi 150 kV.
- Peningkatan kapasitas pembangkit listrik di berbagai titik strategis wilayah Sumatra.
Rangkaian proyek infrastruktur ini diharapkan tidak hanya meningkatkan keandalan pasokan, tetapi juga memperkuat ketahanan sistem energi nasional. Dengan sistem yang lebih kuat, risiko gangguan teknis yang berdampak luas kepada konsumen dapat ditekan secara maksimal.
Langkah transformasi yang dipimpin oleh Dony Oskaria ini menandai babak baru bagi PLN dalam menjalankan fungsinya sebagai penyedia energi utama di Indonesia. Ke depannya, PLN diharapkan menjadi perusahaan yang lebih transparan, efisien, dan memiliki daya saing tinggi.