Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan rencana serangan militer terhadap Iran pada Senin, setelah menerima proposal perdamaian baru dari Teheran terkait pembatasan program nuklir, seperti dilansir dari Internasional.
Langkah penundaan operasi militer yang sebelumnya telah dijadwalkan tersebut diperintahkan langsung oleh Trump kepada militer Amerika Serikat setelah adanya komunikasi diplomatik terbaru.
"Kami TIDAK akan melaksanakan serangan yang telah dijadwalkan terhadap Iran besok, namun saya juga telah memerintahkan mereka untuk tetap siap melancarkan serangan penuh berskala besar kapan saja apabila kesepakatan yang dapat diterima tidak tercapai," ujar Trump.
Sebelumnya, para pemimpin dari Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab dilaporkan turut meminta Trump menangguhkan tindakan militer demi tercapainya kesepakatan damai.
"Ada peluang yang sangat baik bahwa mereka dapat menemukan jalan keluar. Jika kita bisa mencapainya tanpa harus membombardir mereka, saya akan sangat senang," kata Trump.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membenarkan bahwa sikap resmi Teheran telah diteruskan kepada pihak Amerika Serikat melalui perantara Pakistan.
Hubungan diplomatik kedua belah pihak dimediasi oleh Islamabad yang bertindak sebagai jembatan komunikasi, meskipun proses negosiasi dilaporkan menghadapi berbagai dinamika yang dinamis.
"Mereka terus mengubah target negosiasi. Waktu kami tidak banyak," ujar sumber dari Pakistan.
Ketegangan militer tetap diantisipasi oleh pihak Iran yang menegaskan kesiapan pasukan mereka di kawasan melalui komando militer gabungan tertinggi Khatam al-Anbiya.
"Setiap agresi dan invasi baru akan dibalas secara cepat, tegas, kuat, dan luas," ujar komandan Khatam al-Anbiya, Ali Abdollahi.
Proposal damai tersebut mencakup poin penting seperti penghentian perang, pembukaan kembali jalur distribusi minyak di Selat Hormuz, serta pembebasan sanksi maritim.
Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan mulai menunjukkan fleksibilitas terkait dana Iran yang dibekukan serta pengawasan aktivitas nuklir damai oleh International Atomic Energy Agency.
Saat ini situasi di kawasan masih berada dalam kondisi gencatan senjata yang rentan setelah enam pekan konflik bersenjata berlangsung.