Dominasi intelektual ilmuwan asal Persia memperkuat fondasi keagamaan dan sains pada masa Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad yang berlangsung sejak tahun 750 M hingga 1258 M. Sejarah mencatat fenomena ini terjadi seiring perpindahan pusat kekuasaan Islam dari wilayah Arab ke tanah Persia.
Asimilasi budaya yang meluas menjadi faktor utama munculnya deretan pakar non-Arab di pusat peradaban Islam tersebut. Dilansir dari Detikcom, percampuran antar-bangsa mendorong kontribusi besar dari ilmuwan non-muslim dan non-Arab, terutama mereka yang berlatar belakang etnis Persia.
Masa keemasan Daulah Abbasiyah mencapai puncaknya pada abad ke-8 hingga ke-10 Masehi di bawah kepemimpinan Sultan Harun al Rasyid dan Al Ma'mun. Pada periode tersebut, kemajuan pesat terjadi di sektor filsafat, matematika, kedokteran, hingga astronomi dan fisika.
Tokoh-tokoh besar dalam bidang fiqih dan hadits yang karyanya masih digunakan hingga tahun 2026 ini mayoritas hidup pada era tersebut. Di antaranya adalah empat imam mazhab yakni Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad ibn Hanbal.
Pakar hadits terkemuka seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Majah, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, hingga Ad Darimi juga tercatat muncul dari tradisi keilmuan era Abbasiyah. Sebagian besar dari para ahli hadits ini memiliki kaitan erat dengan budaya dan asuhan Persia.
"Sebagian besar ulama hadits yang melestarikan tradisi untuk umat Islam juga adalah orang Persia, atau orang Persia dalam bahasa dan asuhan, karena disiplin ilmu itu banyak dikembangkan di Irâq dan daerah-daerah di luarnya," kata Ibnu Khaldun, sejarawan terkemuka dalam bukunya yang berjudul Muqaddimah.
Ibnu Khaldun menegaskan bahwa keterlibatan etnis Persia sangat krusial dalam tugas melestarikan pengetahuan serta penulisan karya ilmiah secara sistematis. Hal ini mencakup seluruh sarjana yang bekerja pada prinsip-prinsip fiqih, teolog spekulatif, hingga komentator Al-Qur'an pada masa itu.