Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta menginisiasi program Bule Mengajar di kawasan Kotagede, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Rabu (20/5/2026). Langkah ini diambil sebagai strategi untuk memperpanjang durasi tinggal atau length of stay wisatawan mancanegara di wilayah tersebut, seperti dilansir dari Detik Travel.
Kawasan Kotagede dipilih karena memiliki kekayaan potensi pariwisata yang sangat beragam. Wilayah ini dikenal sebagai pusat kerajinan perak, memiliki nilai sejarah yang kuat terkait berdirinya Kerajaan Mataram Islam, serta menyimpan potensi wisata religi.
Pengembangan program ini berawal dari instruksi langsung Wali Kota Yogyakarta yang menginginkan adanya inovasi baru untuk memajukan sektor pariwisata di Kotagede. Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, kemudian merancang konsep pelibatan turis asing secara aktif.
"Saya diberi challenge (tantangan) untuk mengembangkan Bule Mengajar, supaya experience (pengalaman) bule bisa menularkan budaya di daerah asal mengajar untuk bule dapat pengalaman di Indonesia," kata Lucia Daning Krisnawati, Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta.
Pihak dinas juga telah melakukan koordinasi intensif dengan sejumlah sekolah di Kotagede. Melalui langkah ini, anak-anak sekolah dapat berinteraksi langsung dan mendapatkan pengalaman berharga dari para turis asing tersebut.
"Ada semacam pengalaman untuk anak-anak supaya dia saat besar nanti bisa sampai ke negerinya bule-bulenya itu, dan tergugah belajar bahasa asing," ujar Lucia.
Dalam pelaksanaannya, para wisatawan asing tidak hanya berinteraksi di sekolah, tetapi juga diajak berkunjung ke toko perak dan berbelanja makanan khas seperti kipo, kembang waru, dan yangko di Pasar Legi serta Kampung Wisata Purbayan.
"Kita kasih uang untuk beli makanan khas Kotagede, ada kipo ada kembang waru, yangko jadi mereka belanja ke Pasar Legi dan kami ajak ke Kampung Wisata Purbayan," kata Lucia.
Melalui program inovatif ini, Pemerintah Kota Yogyakarta menargetkan peningkatan angka rata-rata lama tinggal wisatawan mancanegara yang saat ini masih di bawah target tahunan.
"Kalau tahun ini 1,78 (hari) tapi sampai bulan Mei belum sampai, baru 1,67 sampai 1,69, ini jadi tantangan kami semoga bisa melampaui," ujar Lucia.
Pemerintah daerah menekankan bahwa setiap program sektor pariwisata yang digulirkan harus membawa dampak kesejahteraan yang nyata dan dapat dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat.
"Pariwisata itu harus berdampak langsung kepada masyarakat. Wisatawan datang bukan hanya melihat-lihat, tetapi ikut berinteraksi, belajar budaya, masuk kampung, hingga berbagi ilmu. Dari situ ada dampak ekonomi, sosial, dan pemberdayaan warga," jelas Wawan Harmawan, Wakil Wali Kota Yogyakarta.
Keterlibatan aktif para turis dalam kehidupan bermasyarakat dinilai efektif untuk meningkatkan volume penjualan produk-produk UMKM lokal, sehingga terjadi pemerataan perputaran ekonomi hingga ke tingkat kampung.
"Kalau wisatawan tinggal lebih lama, mereka makan di warung warga, membeli produk UMKM, ikut aktivitas kampung, maka manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat," kata Wawan.
Kendati memberikan ruang interaksi yang luas bagi turis asing, pemerintah daerah tetap menegaskan pentingnya menjaga integritas budaya lokal selama program berlangsung.
"Walaupun mereka tamu dan wisatawan, kita tetap harus punya prinsip. Mereka harus mengikuti aturan, budaya, dan norma yang dimiliki Yogyakarta. Jangan semuanya dibebaskan, karena identitas dan nilai budaya lokal tetap harus dijaga," tutur Wawan.