Dinkes DKI Temukan Cemaran Bakteri pada Makanan Gratis di Cakung

Dinkes DKI Temukan Cemaran Bakteri pada Makanan Gratis di Cakung
Foto: Ilustrasi Dinkes DKI Temukan Cemaran Bakteri pada Makanan Gratis di Cakung.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta menemukan cemaran mikrobiologi pada paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan 252 siswa sekolah dasar di Cakung, Jakarta Timur, mengalami keracunan pada Jumat (8/5/2026). Penyelidikan mengungkap adanya kombinasi kelalaian prosedur pengolahan dan kondisi dapur yang tidak higienis di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Pulogebang.

Hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan menunjukkan bahwa hidangan yang dikonsumsi para siswa mengandung bakteri berbahaya. Temuan ini dilansir dari Megapolitan melalui laporan akhir kronologis kejadian luar biasa dan investigasi lapangan yang dilakukan pihak berwenang.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati memberikan penjelasan mendalam mengenai penyebab insiden tersebut berdasarkan data teknis di lapangan. Penegasan mengenai temuan kontaminasi ini disampaikan dalam keterangan resmi tertulis pada Kamis (14/5/2026).

"Pola hasil laboratorium dan hasil investigasi lapangan menunjukkan bahwa kejadian ini kemungkinan besar disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor kelalaian. Ada temuan cemaran mikrobiologi yang membahayakan pada makanan tersebut," ujar Ani, Kadinkes DKI Jakarta.

Faktor utama penyebab keracunan mencakup penggunaan bahan baku yang sudah tidak layak konsumsi, seperti tahu yang sudah asam. Selain itu, proses pengolahan Bakmi Jawa sebagai menu utama diketahui tidak melalui tahap perebusan mi basah yang seharusnya dilakukan untuk sterilisasi.

"Proses pengolahan mi basah tidak melalui tahapan perebusan atau boiling. Sehingga, diduga kuat proses memasaknya tidak mencapai suhu optimal untuk menurunkan jumlah mikroorganisme atau bakteri yang ada di dalam mi tersebut," jelas Ani, Kadinkes DKI Jakarta.

Pihak Dinas Kesehatan juga menyoroti adanya kesalahan fatal dalam manajemen waktu distribusi makanan. Jeda waktu antara proses memasak dengan waktu konsumsi siswa diketahui melampaui batas aman, sehingga bakteri berkembang biak dengan cepat.

"Terjadinya time-temperature abuse, yaitu jarak waktu antara makanan matang hingga dikonsumsi melebihi batas aman, yakni lebih dari empat jam. Ini terjadi akibat proses pengolahan dimulai terlalu dini," ucap Ani, Kadinkes DKI Jakarta.

Pemilihan menu yang disajikan kepada para siswa juga dianggap memiliki risiko tinggi karena sifatnya yang cepat basi. Hidangan seperti bakmi jawa dan pangsit tahu berkuah menjadi media yang rentan terhadap kerusakan pangan jika tidak ditangani dengan tepat.

"Jenis pangan yang disajikan tergolong pangan berisiko tinggi dan mudah rusak, yaitu bakmi jawa dan pangsit tahu berkuah," ujar Ani, Kadinkes DKI Jakarta.

Investigasi lebih lanjut menyasar kondisi fisik dapur di SPPG Pulogebang yang belum memiliki legalitas standar kebersihan resmi. Lingkungan kerja dan peralatan masak yang kotor menjadi faktor pendukung terjadinya kontaminasi silang pada makanan matang.

"Terdapat ketidaksesuaian pada penerapan higiene dan sanitasi pada aspek tempat, penjamah pangan (juru masak), serta handling bahan dan peralatan, sehingga meningkatkan risiko terjadinya cemaran terhadap pangan," kata Ani, Kadinkes DKI Jakarta.

Peristiwa ini mengakibatkan ratusan siswa dari SDN Cakung Timur 01, SDN Ujung Menteng 02, dan SDN Ujung Menteng 03 dilarikan ke berbagai fasilitas kesehatan. Para korban mendapatkan perawatan intensif di sejumlah rumah sakit seperti RS Citra Harapan Bekasi, RSI Pondok Kopi, hingga RS Pekerja.

Artikel terkait

Rekomendasi