Commvault Luncurkan Platform Ketahanan Siber di Jakarta

Commvault Luncurkan Platform Ketahanan Siber di Jakarta
Foto: Ilustrasi Commvault Luncurkan Platform Ketahanan Siber di Jakarta.

Commvault menyelenggarakan forum SHIFT pertama di Jakarta pada Selasa, 13 Mei 2026, untuk membantu organisasi memperkuat ketahanan digital menghadapi lonjakan ancaman siber. Acara ini mempertemukan para pemimpin perusahaan guna membahas strategi pemulihan data di tengah percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI).

Frekuensi serangan siber di Indonesia terus mengalami peningkatan signifikan dengan skala risiko yang kian besar. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat miliaran upaya serangan terjadi sepanjang tahun 2025 yang menargetkan berbagai infrastruktur hybrid dan multi-cloud milik organisasi, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Vice President Asia Pacific di Commvault, Martin Creighan, menjelaskan bahwa teknik serangan saat ini dirancang agar tidak terdeteksi oleh sistem keamanan konvensional. Kondisi tersebut memaksa perusahaan untuk tidak sekadar memulihkan data dengan cepat, melainkan memulihkannya dengan benar.

"Dengan serangan siber yang kini dirancang untuk tetap tidak terdeteksi dan menyebar ke berbagai sistem, organisasi menghadapi risiko yang lebih tinggi untuk memulihkan data yang telah terkompromi," kata Martin Creighan, Vice President Asia Pacific di Commvault.

Perusahaan kini fokus mengidentifikasi titik pemulihan yang paling kredibel agar sistem produksi dapat beroperasi kembali secara normal. Langkah ini diambil guna meminimalisir dampak kerusakan reputasi maupun kerugian finansial akibat data yang terinfeksi.

"Perusahaan di Indonesia saat ini menghadapi badai yang besar: ancaman siber yang tiada henti, diperparah oleh AI; serangan terhadap sistem identitas; serta tantangan pemulihan yang berdampak pada pendapatan dan reputasi," ujar Martin Creighan.

Sebagai solusi atas tantangan tersebut, diperkenalkan platform Commvault Cloud Unity yang mengintegrasikan perlindungan data dan pemulihan identitas dalam satu sistem cloud-native. Platform ini memanfaatkan teknologi AI untuk mengklasifikasikan data secara otomatis serta merekomendasikan kebijakan perlindungan yang relevan.

"Saat ini, ketahanan bukan hanya soal perlindungan, tetapi tentang memastikan organisasi dapat pulih dengan kepastian dan menjaga kelangsungan bisnis dalam kondisi apa pun," lanjut Martin Creighan.

Artikel terkait

Rekomendasi