Perusahaan keamanan siber Cloudflare melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 1.100 karyawan atau 20 persen dari total tenaga kerja global pada kuartal kedua 2026. Langkah ini diambil sebagai bagian dari restrukturisasi operasional perusahaan yang kini mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) secara masif, sebagaimana dilansir dari Tekno.
Kebijakan tersebut berdampak signifikan mengingat Cloudflare tercatat memiliki 5.156 pegawai tetap hingga pengujung tahun 2025. Perusahaan yang berbasis di San Francisco ini melaporkan bahwa penggunaan AI internal mereka telah melonjak lebih dari enam kali lipat hanya dalam waktu tiga bulan terakhir.
Pihak manajemen menegaskan bahwa pengurangan staf ini bukan disebabkan oleh masalah kinerja individu atau tekanan finansial jangka pendek. Sebaliknya, hal ini merupakan dampak dari desain ulang peran internal guna menyesuaikan dengan proses kerja baru yang lebih efisien berkat teknologi kecerdasan buatan.
CEO Cloudflare Matthew Prince dan salah satu pendiri perusahaan, Michelle Zatlyn, memberikan penjelasan terkait visi masa depan perusahaan yang kini mulai menitikberatkan pada efisiensi teknologi.
"agen AI" ujar Matthew Prince dan Michelle Zatlyn saat menyebut perusahaan sedang membayangkan kembali setiap tim dan fungsi kerja untuk beroperasi di era tersebut.
Restrukturisasi besar-besaran ini diperkirakan akan memakan biaya yang cukup besar. Cloudflare memproyeksikan beban biaya terkait PHK dan penataan ulang organisasi mencapai angka 140 juta dollar AS hingga 150 juta dollar AS pada periode kuartal kedua tahun ini.
Kondisi keuangan perusahaan menunjukkan dinamika yang kontras, di mana pendapatan kuartal pertama 2026 mencapai 639,8 juta dollar AS. Namun, target pendapatan kuartal kedua yang dipatok pada angka 664 juta hingga 665 juta dollar AS berada sedikit di bawah ekspektasi pasar, yang memicu penurunan harga saham perusahaan sekitar 19 persen.
Fenomena pengurangan tenaga kerja akibat integrasi AI bukan hanya terjadi pada Cloudflare. Sebelumnya, perusahaan pembayaran digital Block juga telah memangkas lebih dari 4.000 posisi pada Februari lalu dengan alasan serupa.
Data dari ekonom Goldman Sachs memperkuat tren ini dengan estimasi kehilangan pekerjaan secara global di berbagai industri mencapai 5.000 hingga 10.000 posisi per bulan sepanjang tahun 2025. Penyesuaian besar-besaran di sektor teknologi ini menandai pergeseran struktur kerja manusia menuju sistem yang lebih terotomasi.