Fenomena telinga kiri yang berdenging secara tiba-tiba sering kali dikaitkan masyarakat dengan berbagai mitos dan hal mistis. Menanggapi hal tersebut, pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Al-Bahjah, Yahya Zainul Ma'arif atau Buya Yahya, memberikan penjelasan secara tegas, dilansir dari Detikcom.
Melalui tayangan di kanal YouTube Al-Bahjah TV yang berjudul 'Benarkah Telinga Berdenging itu Tanda Amal Ibadah Ditolak & Panggilan Nabi Muhammad?', Buya Yahya meminta umat Islam untuk tidak langsung menghubungkan gejala fisik tersebut dengan perkara gaib.
"Telinga berdenging ada permasalahan dengan kesehatan telinganya. Ada mungkin sesuatu, coba tanyakan kepada medis. Telinga berdenging ada sesuatu, mungkin ada tekanan atau apa begitu. Jangan dihubung-hubungkan dengan dipanggil Nabi dan sebagainya," ujar Buya Yahya, dilihat Sabtu (16/5/2026).
Nabi Muhammad SAW menurutnya telah memanggil umatnya setiap hari melalui syariat ibadah yang jelas, bukan lewat tanda-tanda fisik pada tubuh.
"Nabi panggil setiap hari kepada kita, ayo saalat, ayo ibadah, ayo ini. Jangan menunggu berdenging telinga. Tidak denging telingamu, tidak salat? Tidak, tidak ada hubungannya. Jangan menghubung-hubungkan hal demikian itu, tidak tahu itu berita di mana," tegasnya.
Buya Yahya juga menyentil mitos lain yang berkembang, seperti anggapan adanya keluarga yang menangis di kuburan atau tanda kematian. Baginya, intensitas berdenging yang terlalu sering justru merupakan indikator gangguan kesehatan yang memerlukan penanganan dokter.
"Kok sering banget? Berarti penyakitmu agak kuat. Sering, sering. Jadi tidak usahlah, kadang-kadang ini omongan orang begadang, lupa tahajudan, ngomong aneh-aneh. Tidak usah," kelakarnya.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak terjebak pada ramalan nasib berdasarkan kedutan anggota tubuh yang dianggap membawa keberuntungan atau kesialan.
"Kalau mata kiri, hilang duit. Mata kanan, dapat duit. Ini, ini, ini. (Namanya) manusia, kalau patung tidak ada dudut (kedutan). Ada nadi, ada urat, ya pasti ada dudut-dudut," jelas Buya Yahya.
Pola pikir masyarakat diharapkan bisa berubah dengan menjauhi keyakinan batil yang tidak berlandaskan dasar ilmu yang jelas.
"Jadi jangan, tidak usah menghubung-hubungkan dengan hal-hal yang semacam itu ya. Kalau dudut, ya berarti tidak beres itu saja. Atau ya hanya kedut sih, namanya ada urat kok, ada kulitnya, ada ototnya. Ibu jangan percaya yang aneh-aneh. Ayo kita ubah sekarang," pesannya.
Meskipun penjelasan medis menjadi prioritas, literatur Islam klasik seperti kitab Al-Adzkar karya Imam an-Nawawi yang diterjemahkan oleh Masturi Ilham, mencatat sebuah riwayat dari Abu Rafi' mengenai telinga berdengung.
Rasulullah SAW disebut pernah bersabda:
ÏÑ┘ÉÏ░┘ÄϺ ÏÀ┘Ä┘å┘Ä┘æÏ¬┘Æ Ïú┘ÅÏ░┘Å┘å┘Å Ïú┘ÄÏ¡┘ÄÏ»┘É┘â┘Å┘à┘Æ ┘ü┘Ä┘ä┘Æ┘è┘ÄÏ░┘Æ┘â┘ÅÏ▒┘Æ┘å┘É┘è ┘ê┘Ä┘ä┘Æ┘è┘ÅÏÁ┘Ä┘ä┘É┘æ Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘è┘Ä┘æ ┘ê┘Ä┘ä┘Æ┘è┘Ä┘é┘Å┘ä┘Æ Ï░┘Ä┘â┘ÄÏ▒┘Ä Ïº┘ä┘ä┘ç┘Å Ï¿┘ÉÏ«┘Ä┘è┘ÆÏ▒┘ì ┘à┘Ä┘å┘Æ Ï░┘Ä┘â┘ÄÏ▒┘Ä┘å┘É┘è
Artinya: "Jika telinga salah seorang di antara kalian berdengung, maka sebutkanlah aku, bacalah sholawat kepadaku dan ucapkanlah, 'Semoga Allah menyebutkan dengan kebaikan untuk orang yang menyebutku'." (HR Ath-Thabrani).
Terkait status hukumnya, para ahli hadits dalam kitab Al-Kabir, kitab Ash-Shagir, dan Ibnu As-Sunni dalam kitab Al-Yaum wa Al-Lailah memberikan catatan penting. Mereka menilai riwayat yang menganjurkan salat dan bershalawat saat telinga berdenging tersebut berstatus dhaif sekali atau sangat lemah.
Langkah terbaik dan paling rasional bagi seseorang yang mengalami telinga berdenging secara terus-menerus adalah melakukan pemeriksaan langsung ke dokter spesialis THT.