Bursa Wall Street Cetak Rekor Baru Berkat Laba Emiten dan Harga Minyak

Bursa Wall Street Cetak Rekor Baru Berkat Laba Emiten dan Harga Minyak
Foto: Ilustrasi Bursa Wall Street Cetak Rekor Baru Berkat Laba Emiten dan Harga Minyak.

Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street berhasil mencatatkan rekor penutupan tertinggi pada perdagangan Selasa waktu setempat. Penguatan ini dipicu oleh rilis laporan keuangan emiten yang melampaui ekspektasi serta penurunan signifikan harga minyak mentah global.

Dilansir dari Suara, Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite mengalami kenaikan sebesar 0,81 persen. Keduanya mengakhiri sesi perdagangan di level tertinggi sepanjang masa, tepatnya pada posisi 7.259,22.

Kenaikan serupa dialami Dow Jones Industrial Average yang melonjak 1,03 persen ke posisi 25.326,13. Indeks ini sempat menyentuh angka 49.298,25 setelah bertambah sebanyak 356,35 poin selama sesi berlangsung.

Sektor energi menjadi sorotan setelah kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot 3,9 persen menjadi 102,27 dolar AS per barel. Minyak mentah Brent juga melemah 3,99 persen ke level 109,87 dolar AS per barel.

Kondisi ini memberikan sentimen positif bagi pasar saham karena meredanya kekhawatiran atas stabilitas di Timur Tengah. Meskipun situasi di Selat Hormuz sempat memanas, aktivitas pelayaran komersial dilaporkan tetap berjalan lancar.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan bahwa situasi tetap terkendali meski terdapat insiden baru. Ia menjelaskan dua kapal komersial AS berhasil melewati selat tersebut dengan aman di bawah pengawalan kapal perusak.

"Ia menyebut dua kapal komersial AS bersama kapal perusak berhasil melewati selat tersebut dengan aman, menandakan jalur pelayaran masih aman."

Dukungan terhadap pasar juga datang dari Gedung Putih. Sebelumnya, Presiden Donald Trump menyatakan kesiapan Amerika Serikat untuk memandu kapal-kapal yang terjebak di wilayah konflik tersebut agar bisa melintas dengan selamat.

Dari sisi kinerja perusahaan, saham DuPont de Nemours melesat sekitar 8 persen. Hal ini terjadi setelah perusahaan melaporkan pendapatan dan laba kuartal pertama yang jauh di atas prediksi para analis pasar.

Tren positif juga diikuti oleh Anheuser-Busch InBev yang mencatatkan kenaikan saham lebih dari 8 persen. Namun, Palantir Technologies justru mengalami koreksi tajam hampir 7 persen meski pendapatannya tumbuh pesat sejak melantai di bursa.

Data dari FactSet menunjukkan bahwa sekitar 85 persen perusahaan dalam indeks S&P 500 yang sudah merilis laporan keuangan sukses melampaui estimasi laba. Faktor fundamental ini menjadi mesin utama penggerak reli pasar saat ini.

Kepala manajemen portofolio Horizon Investments, Zachary Hill, memberikan pandangannya terkait penguatan pasar yang merata di berbagai sektor. Ia menilai pendapatan yang kuat menjadi kunci optimisme para investor.

"Kami melihat pendapatan yang luar biasa, tidak hanya dari perusahaan teknologi besar, tetapi juga dari S&P 500 yang lebih luas hingga perusahaan kecil," ujarnya.

Hill menambahkan bahwa pasar saat ini cenderung mengabaikan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Keyakinan bahwa pihak-pihak yang terlibat menginginkan solusi damai membuat fluktuasi harga minyak menjadi faktor penentu utama pergerakan saham.

"Pasar saat ini sebagian besar sudah tidak lagi terpengaruh oleh situasi di Selat Hormuz. Dibutuhkan perubahan besar atau lonjakan tajam harga minyak agar konflik tersebut kembali memengaruhi pergerakan pasar," jelasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi