Satelit alami Bumi, Bulan, secara perlahan sedang bergerak menjauh. Melalui pengamatan para ilmuwan, tetangga kosmik kita ini bergeser ke ruang angkasa yang lebih dalam dengan kecepatan 3,8 cm per tahun, seperti dikutip dari Media Indonesia.
Pergeseran ini terjadi akibat pertukaran energi yang terus berlangsung antara kedua objek tersebut. Meski demikian, perubahan kecil ini sama sekali tidak terlihat oleh mata telanjang saat kita memandang langit malam.
Gravitasi Bulan menarik Bumi sehingga menyebabkan tonjolan pada air laut atau pasang-surut. Karena Bumi berotasi lebih cepat daripada orbit Bulan, tonjolan air laut ini terseret sedikit di depan posisi Bulan.
Hal ini memberikan tarikan gravitasi ke depan yang menambah energi rotasi pada Bulan. Proses tersebut secara otomatis memperluas jalur orbitnya dari waktu ke waktu.
Bukti geologis purba membantu ilmuwan memetakan seberapa dekat jarak Bulan dan seberapa cepat planet kita berputar di masa lalu. Berdasarkan studi dalam Proceedings of the National Academy of Sciences yang menganalisis sedimen laut berusia 1,4 miliar tahun, rotasi Bumi di masa purba jauh lebih cepat.
Penemuan fosil kerang bivalve rudist dari zaman Kapur Akhir sekitar 70 juta tahun lalu juga menjadi kalender biologis yang merekam pertumbuhan harian. Hasil analisis kimia menunjukkan bahwa pada akhir zaman dinosaurus, Bumi berotasi sebanyak 372 kali dalam setahun, bukan 365 hari seperti sekarang.
Hal ini membuat durasi satu hari pada masa itu hanya berlangsung selama 23,5 jam. Fakta ini membuktikan bahwa gesekan pasang-surut air laut secara bertahap telah memperpanjang durasi hari kita seiring dengan Bulan yang terus menjauh.
Fenomena menjauhnya Bulan ini sering kali memicu berbagai spekulasi di masyarakat, mulai dari isu kiamat iklim hingga dampak fatal bagi kehidupan manusia.
Namun, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menegaskan bahwa fenomena ini merupakan proses alamiah yang sangat lambat sehingga masyarakat tidak perlu merasa khawatir secara berlebihan.
Terkait dampaknya bagi manusia, efek yang ditimbulkan tidak terjadi secara langsung di dalam kehidupan sehari-hari, melainkan melalui mekanisme alam tertentu di Bumi.
Salah satu contoh yang paling nyata adalah fenomena pasang-surut air laut yang dipengaruhi oleh gaya gravitasi Bulan. Di beberapa pusat pesisir dunia seperti New York dan Los Angeles, pergerakan ini mengubah permukaan air lokal hingga lima kaki.
Kondisi tersebut menciptakan pasang tinggi dan rendah yang menentukan ekosistem pesisir. Selain itu, fenomena ini turut menentukan jalur pelayaran bagi nelayan dan kapal dagang.
Sementara itu, untuk sistem iklim, fenomena pergeseran Bulan ini tidak memberikan pengaruh langsung karena durasi iklim bersifat tahunan hingga puluhan tahun.
Meskipun Bulan tidak akan pernah bisa benar-benar lepas dari gravitasi Bumi, pergeseran lambat ini menjadi pengingat bahwa planet kita berada dalam sistem kosmik yang dinamis dan terus berubah.