BRIN Ungkap 13 Spesies Kuda Laut Indonesia Terancam Punah

BRIN Ungkap 13 Spesies Kuda Laut Indonesia Terancam Punah
Foto: Ilustrasi BRIN Ungkap 13 Spesies Kuda Laut Indonesia Terancam Punah.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa belasan spesies kuda laut yang hidup di perairan Indonesia kini menghadapi ancaman kepunahan serius, seperti dilansir dari Lestari pada Selasa (19/5/2026).

Kekhawatiran tersebut didasarkan pada status konservasi sejumlah spesies yang masuk dalam kategori kritis hingga rentan akibat eksploitasi dan kerusakan lingkungan.

"Untuk kuda laut saat ini, khususnya yang ada di Indonesia, ada yang berstatus critically endangered (kritis), endangered (terancam punah), dan vulnerable (rentan)," ujar Masayu Rahmia Anwar Putri, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Biota BRIN.

Masayu menjelaskan bahwa minimnya pelaporan data pemanfaatan serta perdagangan menjadi kendala utama dalam memastikan status populasi satwa tersebut di alam liar secara akurat.

"Kalau pemanfaatan dan perdagangan tidak dilaporkan, kita tidak mengetahui kondisi populasi sebenarnya," tutur Masayu Rahmia Anwar Putri, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Biota BRIN.

Kerusakan habitat pesisir seperti padang lamun dan makroalga turut memperparah kondisi ini karena kuda laut mengandalkan lingkungan tersebut untuk bertahan hidup dari arus laut.

"Ketika habitatnya terganggu, mereka akan kesulitan bertahan hidup," sebut Masayu Rahmia Anwar Putri, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Biota BRIN.

Aktivitas penangkapan kuda laut kering untuk komoditas obat tradisional dan suvenir juga terus meningkat karena memiliki nilai ekonomi tinggi berkisar Rp 1 juta hingga Rp 8 juta per kilogram.

"Bayangkan kalau satu kampung mengambil kuda laut semua, kita tidak akan menemukannya lagi di daerah tersebut," ucap Masayu Rahmia Anwar Putri, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Biota BRIN.

Guna menekan laju penurunan populasi, BRIN telah berkolaborasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menyusun pedoman restocking serta menetapkan kuota pemanfaatan yang berkelanjutan.

"Kalau masyarakat pesisir tidak mau berkontribusi, kita tidak bisa mendapatkan data yang sebenarnya," katanya Masayu Rahmia Anwar Putri, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Biota BRIN.

Penurunan populasi satwa ini sekaligus menjadi indikator penting mengenai adanya degradasi atau penurunan kualitas lingkungan di wilayah pesisir Indonesia.

"Berkurangnya populasi kuda laut menjadi penanda degradasi lingkungan pesisir, yang berpotensi memengaruhi stok ikan dan keberlanjutan perikanan masyarakat," menyatakan Decky Indrawan Junaedi, Kepala Pusat Riset Sistem Biota BRIN.

Artikel terkait

Rekomendasi