BRIN Pastikan Cahaya Misterius di Langit Indonesia Merupakan Roket China

BRIN Pastikan Cahaya Misterius di Langit Indonesia Merupakan Roket China
Foto: Ilustrasi BRIN Pastikan Cahaya Misterius di Langit Indonesia Merupakan Roket China.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengonfirmasi bahwa penampakan objek bercahaya yang melintasi langit sejumlah wilayah Indonesia pada Sabtu malam, 11 April 2026, merupakan jejak peluncuran roket Smart Dragon-3 (Jielong-3) milik China. Fenomena ini terpantau jelas dari Lampung, Kalimantan, Sulawesi, hingga wilayah Nusa Tenggara.

Dilansir dari Detik iNET, peluncuran wahana antariksa berbahan bakar padat tersebut dilakukan dari sistem peluncuran berbasis laut di lepas pantai Yangjiang, Guangdong. Proses pengiriman satelit internet ke orbit sun-synchronous ini berlangsung pada pukul 18.32 WIB atau 19.32 WITA.

Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, memberikan penjelasan mengenai asal-usul cahaya yang sempat memicu perbincangan luas di berbagai platform media sosial tersebut.

"Cahaya yang terlihat di langit itu adalah jejak roket Jielong-3 yang sedang menuju orbit. Ekor cahaya tersebut berasal dari semburan gas roket saat melintasi atmosfer atas menuju antariksa," jelas Thomas dikutip Rabu (15/4/2026).

Lalu lintas peluncuran roket ini secara teknis memang melewati ruang udara Indonesia pada ketinggian tertentu. Thomas memaparkan bahwa Smart Dragon-3 mampu mencapai ketinggian sekitar 500 kilometer sebelum melepaskan muatan satelitnya.

Efek visual yang menyerupai lengkungan cahaya panjang di langit malam terjadi akibat pantulan cahaya matahari pada gas buang roket di atmosfer atas. Hal ini membuat objek tetap terlihat terang secara visual meskipun pengamat di permukaan Bumi sudah berada dalam kondisi gelap malam.

Thomas memberikan penegasan bahwa peristiwa ini memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan kemunculan objek langit pada awal April 2026 yang lalu.

"Yang terjadi pada 4 April adalah jatuhnya sampah antariksa berupa sisa roket lama tipe CZ-3B, sedangkan yang terlihat pada 11 April ini adalah roket yang sedang diluncurkan, bukan benda jatuh," tegas Thomas.

Berdasarkan keterangan ahli, perbedaan utama terletak pada interaksi objek dengan atmosfer. Sampah antariksa biasanya akan tampak terpecah-pecah karena terbakar saat jatuh, sementara roket aktif hanya menunjukkan semburan gas buang yang stabil.

Pihak BRIN menjamin bahwa aktivitas keantariksaan global ini tidak menimbulkan ancaman atau bahaya bagi masyarakat di wilayah yang terlintasi oleh jejak peluncuran tersebut.

"Fenomena ini merupakan bagian dari aktivitas keantariksaan global yang dapat diamati dari Indonesia ketika lintasan peluncuran melintasi kawasan ini," pungkas Thomas.

Artikel terkait

Rekomendasi