Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi material nanokomposit berbasis graphene oxide untuk memperkuat daya saing sektor kesehatan hingga kemasan pangan nasional pada Minggu (10/5/2026). Material baru ini diproyeksikan menjadi alternatif pengganti bahan sintetis konvensional yang lebih ringan dan kuat.
Pengembangan teknologi ini diarahkan untuk mendukung industri farmasi dan material fungsional berteknologi tinggi di Indonesia. Berdasarkan data riset, penggunaan filler dalam jumlah kecil pada nanokomposit mampu menghasilkan performa material generasi baru yang lebih unggul dibandingkan bahan dasar lainnya.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Metalurgi BRIN, Eko Sulistiyono, menjelaskan bahwa cakupan penggunaan material hasil riset ini sangat bervariasi bagi kebutuhan publik. Inovasi ini mengombinasikan graphene oxide dengan kalsium karbonat dan kitosan melalui metode khusus.
"Potensi pemanfaatannya cukup luas, antara lain untuk kemasan pangan biodegradable, sistem penghantaran obat, biosensor, pelapis antibakteri, hingga scaffold rekayasa jaringan tulang pada bidang kesehatan," ujar Eko Sulistiyono, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Metalurgi BRIN.
Tim peneliti menerapkan metode modified HummerÔÇÖs untuk menyintesis graphene oxide dari grafit sebelum dicampur dengan nanopartikel lainnya. Pemanfaatan kitosan sebagai biopolimer alami menjamin material ini bersifat antibakteri dan aman untuk aplikasi biomedis serta pengemasan makanan.
"Graphene oxide memiliki karakteristik mekanik yang sangat baik serta biokompatibel, sehingga sangat potensial digunakan sebagai penguat material komposit untuk aplikasi biomaterial maupun industri berteknologi tinggi," jelas Eko Sulistiyono, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Metalurgi BRIN.
Dilansir dari Teknologi, pengujian laboratorium membuktikan bahwa penambahan graphene oxide sebesar 5% memicu lonjakan kekuatan tarik material yang signifikan. Kekuatan tarik atau tensile strength tercatat mencapai 85,2 MPa, jauh melampaui film kitosan murni yang hanya berada pada angka 16,5 MPa.
Peningkatan kualitas ini terjadi akibat dispersi graphene oxide yang efektif dalam memperkuat struktur matriks komposit. Selain ketahanan fisik, penggunaan nanopartikel kalsium karbonat turut menjaga sifat biokompatibilitas agar tetap aman saat diaplikasikan pada makhluk hidup.
"Pengembangan nanokomposit berbasis graphene oxide diharapkan dapat mendukung kebutuhan industri strategis nasional, termasuk sektor kesehatan, farmasi, fast moving consumer goods [FMCG], dan material fungsional berkelanjutan," pungkas Eko Sulistiyono, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Metalurgi BRIN.