Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat pengembangan sistem pemantauan real time untuk mengaudit kondisi rel di atas jembatan guna memperkuat mitigasi kecelakaan kereta api di Indonesia. Langkah ini diambil menyusul insiden maut yang melibatkan kereta api Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.
Dilansir dari Kompas, insiden di Bekasi tersebut menelan sedikitnya 14 korban jiwa. Kepala BRIN Arif Satria menyatakan bahwa inovasi teknologi sangat krusial untuk memantau integritas struktur transportasi secara terus-menerus demi mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Saat ini, BRIN tengah menjalankan sekitar 20 kajian aktif di sektor perkeretaapian yang didukung oleh fasilitas uji lengkap. Riset tersebut meliputi pemodelan performa, populasi kereta cepat, hingga sistem otomasi dan persinyalan untuk meningkatkan keandalan prasarana nasional.
"Dalam konteks perkeretaapian, kita tidak hanya berbicara tentang aspek sarana, tetapi juga aspek prasarana," kata Arif Satria, Kepala BRIN di Jakarta, Selasa (28/4/2026), dikutip dari Antara.
Arif menjelaskan bahwa salah satu fokus utama riset saat ini adalah penggunaan Structural Health Monitoring System (SHMS). Teknologi ini dirancang untuk melakukan audit jembatan kereta api secara instan dan akurat.
"Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah Structural Health Monitoring System (SHMS), yang digunakan untuk audit jembatan kereta api secara real time. Sistem ini sangat bermanfaat, khususnya bagi PT KAI dalam menjaga keselamatan dan keandalan infrastruktur." ujar Arif Satria, Kepala BRIN.
Menurutnya, kecelakaan kereta api merupakan persoalan kompleks yang melibatkan banyak variabel. Hal ini mendorong BRIN untuk menjadikan setiap kejadian terbaru sebagai landasan riset lanjutan yang lebih mendalam.
"Ke depan, berbagai kejadian terbaru dapat menjadi tema riset lanjutan, mengingat kecelakaan kereta api umumnya bersifat multi-aspek, yang meliputi faktor teknologi, perilaku, dan sosial, karena kereta api merupakan sebuah ekosistem, sehingga persoalannya tidak bisa dilihat dari satu sisi saja," imbuh Arif Satria, Kepala BRIN.
Selain pengembangan teknologi mekanis, BRIN juga merevitalisasi kolaborasi dengan PT Industri Kereta Api (INKA) di Madiun. Pendekatan multidisiplin ini mencakup dimensi hukum, sosial, dan kebijakan guna menghasilkan solusi transportasi yang komprehensif bagi publik.