BPS: Inflasi Mei 2026 Naik 3,08 Persen, Harga Pangan Terbaru Jadi Pemicu Utama

BPS: Inflasi Mei 2026 Naik 3,08 Persen, Harga Pangan Terbaru Jadi Pemicu Utama
Foto: BPS: Inflasi Mei 2026 Naik 3,08 Persen, Harga Pangan Terbaru Jadi Pemicu Utama. (Illustration by Pexels)

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis laporan terbaru mengenai kondisi ekonomi nasional pada pertengahan tahun ini. Laporan tersebut mencatat adanya kenaikan angka inflasi tahunan pada bulan Mei 2026.

Berdasarkan data resmi, inflasi pada Mei 2026 menyentuh angka 3,08% secara tahunan atau year on year (yoy). Angka ini menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun lalu.

Sebagai perbandingan, tingkat inflasi pada Mei 2025 tercatat jauh lebih rendah, yakni hanya sebesar 1,60%. Selain itu, angka inflasi Mei 2026 juga tercatat lebih tinggi jika disandingkan dengan realisasi April 2025 yang berada di level 2,42%.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, memberikan penjelasan mendalam terkait fenomena ekonomi ini pada Selasa, 2 Juni 2026. Ia menyebutkan bahwa terjadi lonjakan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang cukup terasa dalam satu tahun terakhir.

IHK yang pada Mei 2025 berada di posisi 108,07 kini merangkak naik hingga menyentuh angka 111,40 pada Mei 2026. Kenaikan harga pada berbagai sektor inilah yang kemudian membentuk angka inflasi tahunan sebesar 3,08% tersebut.

Faktor Pemicu Utama Inflasi Mei 2026

Dalam paparannya, Pudji menyampaikan bahwa kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama kenaikan inflasi. Kelompok ini mencatatkan inflasi yang cukup tinggi, yakni mencapai angka 4,94%.

Sektor pengeluaran tersebut memberikan kontribusi atau andil terbesar terhadap total inflasi nasional dengan angka mencapai 1,43%. Kenaikan harga pada komoditas pangan pokok sangat mendominasi tekanan inflasi pada kelompok ini.

Beberapa komoditas pangan dan barang konsumsi yang menjadi penyumbang utama inflasi antara lain:
  • Beras, minyak goreng, dan daging ayam ras.
  • Ikan segar, cabai merah, serta cabai rawit.
  • Sigaret Kretek Mesin (SKM) yang termasuk dalam kelompok tembakau.

Daftar komoditas di atas menunjukkan bahwa kebutuhan pokok rumah tangga masih menjadi faktor yang sangat sensitif terhadap perubahan harga pasar. Hal ini kemudian berdampak langsung pada daya beli masyarakat luas secara umum.

Selain faktor pangan, BPS juga menyoroti adanya kenaikan harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini mengalami inflasi yang sangat tinggi hingga mencapai angka 10,35%.

Secara keseluruhan, kelompok jasa dan perawatan pribadi ini memberikan sumbangsih sebesar 0,70% terhadap inflasi nasional. Salah satu pemicu utama di sektor ini adalah fluktuasi harga emas perhiasan yang terus merangkak naik.

Analisis Inflasi Berdasarkan Komponen

Badan Pusat Statistik juga merinci angka inflasi berdasarkan tiga komponen utama penyusunnya. Ketiga komponen tersebut meliputi inflasi inti, harga yang diatur pemerintah, serta harga yang bergejolak.

Pada Mei 2026, terpantau bahwa ketiga komponen tersebut kompak mengalami kenaikan harga secara bersamaan. Fenomena ini memberikan gambaran bahwa tekanan inflasi terjadi secara menyeluruh di berbagai lini ekonomi.

Berikut adalah rincian andil dan angka inflasi berdasarkan komponen utama menurut data BPS:
Komponen Inflasi Angka Inflasi (%) Andil Inflasi (%)
Komponen Inti 2,59% 1,66%
Harga Diatur Pemerintah 2,70% 0,40%
Harga Bergejolak 6,24% 1,02%

Tabel tersebut merangkum pergerakan harga pada tiap komponen yang menyusun angka inflasi nasional sepanjang Mei 2026. Terlihat jelas bahwa komponen harga bergejolak memiliki angka persentase kenaikan paling tinggi di antara yang lain.

Detail Komoditas Penyumbang Tiap Komponen

Lebih mendalam, Pudji Ismartini menjelaskan komoditas apa saja yang memengaruhi tiap komponen tersebut. Untuk komponen inti, kenaikan harga dipicu oleh emas perhiasan, minyak goreng, dan biaya makan di luar seperti nasi dengan lauk.

Selain itu, sektor pendidikan dan tempat tinggal juga memberikan tekanan pada inflasi inti. Biaya kuliah untuk akademi atau perguruan tinggi, sewa rumah, serta biaya sewa mobil turut memberikan andil yang nyata.

Pada komponen harga yang diatur pemerintah atau administered price, inflasi sebesar 2,70% didominasi oleh sektor transportasi dan cukai. Tarif angkutan udara menjadi salah satu penyumbang utama dalam kelompok pengeluaran ini.

Berbagai jenis rokok juga turut andil dalam kenaikan harga di komponen pemerintah ini. Produk seperti Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM), serta bahan bakar rumah tangga menjadi pemicunya.

Terakhir, komponen harga bergejolak mencatatkan inflasi tertinggi di angka 6,24%. Sesuai namanya, komponen ini sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga bahan pangan mentah yang sering berubah sewaktu-waktu.

Komoditas seperti beras, daging ayam ras, serta aneka jenis cabai masih menjadi beban utama di komponen ini. Selain itu, kenaikan harga bawang merah dan daging sapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap total inflasi Mei 2026.

Secara garis besar, laporan BPS ini menunjukkan bahwa pemerintah perlu memberikan perhatian ekstra pada stabilitas harga pangan. Mengingat andilnya yang besar, pengendalian harga bahan pokok menjadi kunci utama dalam menjaga laju inflasi tetap terkendali.

Artikel terkait

Rekomendasi