PT Global Digital Niaga Tbk (Blibli) memperkenalkan inisiatif JEDA sebagai metode untuk mendorong masyarakat agar lebih bijak dalam merespons informasi baik secara daring maupun luring. Program ini didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Digital serta sejumlah pemangku kepentingan terkait lainnya.
Gerakan ini bertujuan memperkuat perlindungan konsumen melalui pendekatan JEDA yang merupakan akronim dari Jangan Reaktif, Evaluasi, Double-check, dan Ambil keputusan dengan tenang. Peluncuran ini disertai dengan penyediaan microsite khusus sebagai ruang eksperimen sosial bagi publik, sebagaimana dilansir dari Suara.
Head of PR Blibli, Nazrya Octora menyatakan bahwa perusahaan berkomitmen untuk menyediakan ekosistem perdagangan yang dapat dipercaya oleh pengguna. Inisiatif ini difokuskan pada upaya meningkatkan kualitas keputusan konsumen melalui kejernihan berpikir.
"Inisiatif JEDA lahir dari pemahaman bahwa kualitas keputusan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan, tetapi juga oleh kejernihan, sehingga kami ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya cepat, tetapi juga memberikan rasa percaya, baik secara online maupun offline," ujar Nazrya Octora, Head of PR Blibli.
Hasil dari eksperimen sosial tersebut menunjukkan bahwa konten pancingan atau clickbait masih memiliki pengaruh besar terhadap perilaku masyarakat. Temuan data menyoroti bahwa kelompok usia Baby Boomer justru lebih responsif terhadap konten tersebut dibandingkan generasi muda.
Psikolog Irma Gustiana yang turut terlibat dalam inisiatif ini memberikan penjelasan mengenai pentingnya pengalihan dorongan impulsif. Menurutnya, aktivitas sederhana yang bersifat kognitif dapat membantu seseorang melatih pengendalian diri.
"Dengan mengalihkan energi impulsif menjadi aktivitas yang memuaskan secara kognitif, kita sebenarnya sedang melatih kendali diri dengan cara yang menyenangkan," ujar Irma Gustiana, Psikolog.
Irma juga menekankan bahwa aktivitas mindful dalam eksperimen tersebut terbukti memberikan ketenangan bagi partisipan meskipun dilakukan dalam waktu singkat. Kualitas interaksi dianggap lebih penting daripada frekuensi pengulangan aktivitas.
"Ketenangan itu bukan soal berapa lama, tapi seberapa terasa. Kalau sekali main sudah membuat ÔÇÿlegaÔÇÖ, artinya tujuan mindful-nya berhasil," tambah Irma Gustiana, Psikolog.
Berdasarkan data eksperimen, lonjakan perilaku reaktif tercatat terjadi pada jam-jam sibuk antara pukul 09.00 hingga 15.00 WIB. Selain itu, peningkatan interaksi juga terdeteksi pada momen-momen tertentu seperti awal Ramadan pada 17-21 Februari dan masa libur Lebaran pada 26-28 Maret.