Biji Kelor Mampu Bersihkan Mikroplastik dalam Air

Biji Kelor Mampu Bersihkan Mikroplastik dalam Air
Foto: Ilustrasi Biji Kelor Mampu Bersihkan Mikroplastik dalam Air.

Peneliti dari Institute of Science and Technology of São Paulo State University (ICT-UNESP) Brasil menemukan potensi besar tanaman kelor atau Moringa oleifera dalam membersihkan polusi mikroplastik di dalam air pada Senin (20/4/2026). Temuan yang diterbitkan dalam jurnal ACS Omega ini menunjukkan bahwa biji kelor mampu bekerja layaknya koagulan kimia dalam proses penjernihan air.

Ekstrak garam dari biji kelor terbukti efektif mengikat partikel mikroplastik jenis PVC (polyvinyl chloride) yang sengaja dicampurkan dalam pengujian laboratorium. Penggunaan bahan alami ini menjadi solusi potensial mengingat PVC merupakan salah satu polutan air paling berbahaya yang bersifat karsinogenik dan sulit dihilangkan melalui proses konvensional, sebagaimana dilansir dari Lestari.

Analisis mendalam mengenai efektivitas tanaman asal India ini disampaikan oleh penulis utama studi tersebut yang membandingkan performanya dengan bahan penjernih komersial.

"Kami menunjukkan bahwa ekstrak air garam dari biji kelor bekerja hampir sama baiknya dengan aluminium sulfat, yaitu bahan kimia yang biasanya digunakan di pabrik pengolahan air untuk mengikat mikroplastik. Pada air yang lebih basa, biji kelor bahkan bekerja lebih baik daripada bahan kimia tersebut," kata Gabrielle Batista, penulis utama penelitian ini.

Meskipun memiliki keunggulan dalam mengikat polutan, penggunaan kelor dalam skala industri masih menghadapi tantangan terkait residu organik yang ditinggalkan. Hal ini dijelaskan oleh pemimpin penelitian yang menyoroti aspek efisiensi biaya proses pembersihan lanjutan.

"Satu-satunya kekurangan biji kelor dibandingkan bahan kimia sejauh ini adalah meningkatnya jumlah zat organik yang terlarut, yang jika harus dibersihkan bisa membuat prosesnya jadi lebih mahal. Namun, untuk skala kecil seperti di perkebunan atau komunitas warga yang kecil metode ini bisa digunakan dengan sangat murah dan efisien," papar Adriano Gonçalves dos Reis, profesor di ICT-UNESP yang juga pemimpin penelitian.

Dalam pengujiannya, tim peneliti menggunakan sistem Jar Test untuk menyaring air yang telah terkontaminasi mikroplastik PVC yang telah terpapar radiasi ultraviolet. Proses ini meniru penuaan alami plastik di lingkungan agar hasil penelitian lebih akurat dengan kondisi lapangan yang sebenarnya.

Penerapan metode ini juga telah mulai diuji langsung pada sampel air yang diambil dari Sungai Paraíba do Sul. Profesor Reis menekankan pentingnya beralih ke alternatif alami seiring dengan meningkatnya standar kesehatan global.

"Saat ini aturan semakin ketat dan kekhawatiran kesehatan meningkat terkait penggunaan bahan kimia berbahan dasar aluminium dan besi. Bahan-bahan tersebut tidak dapat terurai secara alami, meninggalkan sisa racun, dan berisiko memicu penyakit. Itulah mengapa pencarian alternatif yang lebih ramah lingkungan semakin diperkuat," papar Reis.

Artikel terkait

Rekomendasi