Destinasi wisata Benteng Amsterdam di Negeri Hila, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku menjadi lokasi tepat untuk mendalami sisi lain sejarah rempah-rempah Nusantara. Lokasi cagar budaya ini dapat dijangkau dengan perjalanan darat sekitar satu jam dari Kota Ambon, seperti dikutip dari Detik Travel.
Akses jalan menuju benteng ini tergolong kecil dan berliku. Sepanjang perjalanan, suasana perkotaan akan berubah menjadi lanskap pedesaan yang dipenuhi deretan rumah warga serta deretan penjual ikan di tepi jalan.
Objek wisata sejarah ini biasanya mulai dipadati pengunjung pada siang hari. Kelompok wisatawan, termasuk rombongan akademisi, kerap memanfaatkan area benteng untuk melakukan perjalanan wisata sejarah sambil berkumpul di bawah tenda.
Para pengunjung juga dapat menyaksikan atraksi seni tradisional bambu gila yang digelar di halaman depan benteng. Sebagian wisatawan bahkan ikut mencoba permainan adat tersebut dan bergerak mengikuti dinamika bambu.
"Buat masyarakat dan siapa pun dia yang mau datang ke sini bikin acara di sini, itu kami siap," kata polisi khusus cagar budaya setempat, Damir Lating.
Damir Lating menambahkan bahwa kawasan bersejarah ini juga sering dipilih sebagai lokasi agenda resmi berbagai institusi. Beberapa kegiatan yang kerap digelar di sini meliputi acara perpisahan pejabat hingga sosialisasi lembaga.
Asal-usul Pembangunan Benteng
Negeri Hila di Pulau Ambon awalnya merupakan pusat dari Kerajaan Hitu, sebuah kerajaan Islam yang eksis sebelum bangsa Eropa mendarat di Maluku. Benteng Amsterdam sendiri tercatat sudah berdiri di wilayah tersebut sejak tahun 1512.
Bangsa Portugis menjadi pihak pertama yang membangun struktur ini di bawah pimpinan Fransisco Serrao. Pada awal masa berdirinya, bangunan tersebut hanya difungsikan sebagai gudang penyimpanan komoditas rempah-rempah Portugis.
Memasuki tahun 1605 atau hampir satu abad kemudian, bangsa Belanda mulai menginjakkan kaki di Pulau Maluku. Masyarakat setempat bersama Kerajaan Hitu kemudian bekerja sama dengan Belanda untuk mengusir pendudukan Portugis.
Aliansi tersebut berhasil merebut bangunan gudang rempah yang kemudian dialihfungsikan oleh Belanda menjadi kubu pertahanan. Sejak pergantian kekuasaan tersebut, tempat ini resmi dinamai Benteng Amsterdam.
Sistem Monopoli dan Nilai Pala
Kerja sama Kerajaan Hitu dengan Belanda dipicu oleh ketidakpuasan terhadap sistem perdagangan yang diterapkan Portugis. Bangsa Portugis memberlakukan monopoli dagang ketat dan mengumpulkan rempah secara paksa dari tanah Maluku.
Kebijakan tersebut mewajibkan seluruh masyarakat setempat untuk menjual hasil panen pala dan cengkih hanya kepada pihak Portugis. Langkah penyelamatan komoditas lokal pun menjadi prioritas bagi Kerajaan Hitu.
"Tidak ada lagi negara lain yang punya persediaan rempah yang lebih banyak seperti dia," ucap Damir.
Bagi bangsa Eropa saat itu, nilai ekonomi rempah-rempah sangat tinggi hingga mampu melewati harga emas di pasar internasional. Satu kilogram buah pala pada masa itu dihargai lebih mahal daripada satu gram emas.
Karakteristik Arsitektur Bangunan
Struktur utama Benteng Amsterdam dirancang dalam tiga lantai. Pada masa administrasi Belanda, area lantai pertama digunakan khusus sebagai tempat penyimpanan pasokan makanan.
Bangunan ini memiliki karakteristik unik berupa denah segi empat dengan struktur atap berbentuk limas. Konstruksi benteng tetap berdiri kokoh setelah melewati proses pemugaran menyeluruh pada tahun 1991.
Proses renovasi tersebut dilakukan dengan mengacu pada gambar dokumentasi dalam buku Beschreiving van Ambonian karya Francois Valantyn. Meski struktur dinding dan tembok asli dipertahankan, bagian tegel lantai dan material kayu kini telah diganti.
Saat melangkah ke dalam benteng, pengunjung akan menemukan sebuah ruangan kecil di bagian kiri. Ruangan tersebut awalnya dipakai Belanda untuk menyimpan mesiu, sebelum akhirnya diubah menjadi penjara pada masa pendudukan Jepang.
Rekam Jejak Penelitian Rumphius
Area dinding di lantai dua benteng dipenuhi oleh deretan pigura yang menampilkan gambar berbagai spesies ikan. Gambar-gambar tersebut merupakan hasil dokumentasi ilmiah dari pakar botani asal Jerman, Georg Eberhard Rumphius.
Selama bekerja untuk kongsi dagang VOC di Ambon, Rumphius mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk meneliti flora dan fauna setempat. Hasil risetnya mencatat sedikitnya 600 jenis ikan yang hidup di perairan Maluku.
Selain bidang botani, Rumphius juga mendokumentasikan peristiwa tsunami pertama di Maluku yang terjadi pada tahun 1674. Dalam catatan sejarahnya, ia menggunakan istilah bahaya Seram karena pusat gempa bumi berada di Pulau Seram.
Rumphius menjadi saksi mata langsung dari bencana alam besar yang menelan korban jiwa hingga sekitar 2.000 orang tersebut. Dari total seluruh korban yang meninggal dunia, sebanyak 1.200 jiwa di antaranya merupakan warga Negeri Hila.