Sejumlah perusahaan raksasa teknologi global seperti Meta dan Microsoft dilaporkan meningkatkan alokasi belanja untuk kecerdasan buatan atau AI secara signifikan pada tahun 2026 meskipun tengah melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap ribuan karyawan mereka. Dilansir dari Tekno, langkah strategis ini diambil sebagai upaya restrukturisasi organisasi guna mengejar efisiensi operasional di tengah perlambatan pertumbuhan industri pascapandemi.
Meta tercatat memangkas sekitar 10 persen tenaga kerjanya namun tetap menggelontorkan belanja modal AI yang mencapai angka 125 hingga 145 miliar dollar AS. Kebijakan ini memicu perdebatan mengenai peran teknologi dalam menggantikan posisi manusia di sektor profesional. CEO Meta Mark Zuckerberg memberikan tanggapan terkait tujuan utama dari pengadopsian teknologi tersebut di perusahaannya.
"orang akan menjadi lebih penting, bukan sebaliknya." kata Zuckerberg, CEO Meta.
Zuckerberg menekankan bahwa penggunaan kecerdasan buatan dirancang untuk mendongkrak produktivitas karyawan dan bukan untuk menghapus peran manusia sepenuhnya. Di sisi lain, manajemen Meta juga masih memantau perkembangan struktur organisasi mereka di masa depan. CFO Meta, Susan Li, menyatakan bahwa pihak manajemen belum menentukan format tim yang paling tepat dalam ekosistem kerja berbasis teknologi saat ini.
"ukuran tim ideal" ujar Li, CFO Meta.
Fenomena ini juga mendapat perhatian dari praktisi industri yang melihat adanya kecenderungan penggunaan narasi teknologi untuk menutupi kebijakan finansial. Babak Hodjat selaku Chief AI Officer Cognizant mengungkapkan bahwa restrukturisasi sering kali menggunakan alasan perkembangan teknologi demi kepentingan pemangku kepentingan.
"Terkadang AI menjadi kambing hitam dari sisi finansial. Ini bisa terjadi ketika perusahaan merekrut terlalu banyak atau ingin merampingkan organisasi," kata Hodjat, Chief AI Officer Cognizant.
Sentimen serupa muncul dalam laporan yang menunjukkan bahwa 59 persen manajer perekrutan sengaja menonjolkan alasan AI dalam pengumuman PHK agar terlihat lebih baik di mata investor. Selain faktor internal, kondisi eksternal seperti koreksi pasar setelah ekspansi agresif selama masa pandemi turut memaksa perusahaan untuk mengatur ulang skala bisnis mereka. CEO Google, Sundar Pichai, memberikan data mengenai dampak langsung penerapan teknologi tersebut pada kinerja tim teknis.
"adopsi AI sendiri telah meningkatkan produktivitas engineer sekitar 10 persen." kata Pichai, CEO Google.
Meskipun sekitar 20 persen PHK di sektor teknologi pada 2026 dikaitkan dengan kehadiran kecerdasan buatan, para analis memandangnya sebagai proses reorganisasi mendasar. Alan Cohen, analis dari perusahaan bisnis RationalFX, menjelaskan bahwa industri saat ini sedang dalam tahap pembentukan ulang pola kerja yang lebih efisien.
"Sektor teknologi sedang direorganisasi secara fundamental di sekitar workflow yang lebih efisien berbasis teknologi," kata Cohen, Analis RationalFX.