Sekitar 200 wisatawan terjebak di tengah baku tembak antara kepolisian dan geng kriminal di Puncak Morro Dois Irmaos, Rio de Janeiro, Brasil, pada Senin (20/4/2026) pagi. Insiden ini terjadi saat para pengunjung sedang menunggu momen matahari terbit di lokasi yang menghadap Pantai Ipanema tersebut.
Akses utama menuju jalur pendakian ditutup total ketika personel dari Kantor Kejaksaan Bahia dan Policia Civil Rio terlibat kontak senjata dengan anggota geng Comando Vermelho. Dilansir dari Detik Travel, kelompok kriminal tersebut diduga bersembunyi di kawasan Vidigal yang berada di sekitar area wisata.
Matilda Oliveiro, seorang turis asal Portugal, menceritakan pengalamannya saat terjebak bersama saudara perempuannya, Rita. Para pemandu wisata segera menginstruksikan seluruh rombongan untuk berlindung di tanah guna menghindari peluru nyasar.
"Kami sedang menunggu matahari terbit dan, tiba-tiba, para pemandu meminta kami untuk duduk dan kami mulai mendengar suara tembakan," kata Matilda Oliveiro, wisatawan asal Portugal.
Pemandu lokal dilaporkan telah berkoordinasi dengan unit kepolisian yang beroperasi di Vidigal setelah sebelumnya menerima informasi mengenai rencana operasi tersebut. Ketegangan mereda setelah sebuah helikopter polisi melintas untuk memberikan instruksi keamanan kepada para pendaki.
Danielly Nobre, salah satu wisatawan berusia 25 tahun, memberikan kesaksian mengenai situasi di lokasi saat para pemandu berupaya menenangkan massa. Kelompok tersebut akhirnya berhasil dievakuasi turun dari puncak gunung setelah tertahan selama kurang lebih 30 menit.
"Kami terkejut. Kami sudah berada di puncak ketika kami mulai mendengar suara tembakan, dan para pemandu sudah memberi tahu kami apa yang terjadi," kata Danielly Nobre, wisatawan.
Nobre menambahkan bahwa proses penurunan rombongan dilakukan secara bertahap dengan pengawasan ketat. Meskipun dilingkupi rasa takut, para turis saling membantu satu sama lain untuk menyelesaikan jalur pendakian hingga kembali ke zona aman.
"Pada akhirnya, semuanya berjalan lancar. Semua orang turun satu per satu, semua saling membantu, dan kami berhasil menyelesaikan jalur pendakian, melihat matahari terbit, dan merasakan adrenalin yang luar biasa," kata Danielly Nobre.
Pihak berwenang mengidentifikasi lawan bertikai sebagai anggota Comando Vermelho, organisasi kriminal yang memegang kendali atas distribusi logistik dan layanan di wilayah tersebut. Kelompok ini diketahui memonopoli penyediaan gas, transportasi, hingga jaringan internet di area kekuasaan mereka.