Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Indonesia diprediksi masih akan terus berlanjut hingga akhir tahun ini. Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mengungkapkan bahwa ancaman hilangnya pekerjaan bagi puluhan ribu buruh masih sangat nyata.
Berdasarkan riset terbaru lembaga tersebut, diperkirakan ada belasan hingga puluhan ribu pekerja yang akan terdampak. Estimasi ini merujuk pada kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil di berbagai sektor industri.
Proyeksi Lonjakan Angka PHK di Semester II
Laporan riset CORE yang berjudul 'Badai PHK (Belum) Berlalu' memberikan gambaran yang cukup mengkhawatirkan. Studi ini disusun oleh tim peneliti yang terdiri dari Yusuf Rendy Manilet, Azhar Syahida, Dwi Setyorini, dan Lailatun Nikmah.
Dalam dokumen tersebut, diproyeksikan akan ada penambahan angka pengangguran baru dalam jumlah yang signifikan. Potensi tambahan pekerja yang terkena PHK diperkirakan mencapai angka 15,3 ribu hingga 20,3 ribu orang.
Distribusi potensi dampak pengurangan tenaga kerja menurut riset CORE:
- Sektor Manufaktur: Menjadi bidang yang paling rentan dengan perkiraan kehilangan 8,7 hingga 12,1 ribu pekerja.
- Sektor Jasa: Diprediksi akan mengalami pemangkasan tenaga kerja sekitar 3,3 sampai 4,5 ribu posisi.
- Sektor Pertanian: Diperkirakan terdapat potensi pengurangan jumlah buruh antara 3,3 hingga 3,6 ribu orang.
Data di atas menunjukkan bahwa sektor manufaktur memegang risiko tertinggi dibandingkan bidang lainnya. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan yang besar terhadap stabilitas rantai pasok dan biaya produksi.
Faktor Global dan Pelemahaan Rupiah
Munculnya ancaman PHK ini dipicu oleh gabungan tekanan dari faktor internal maupun dinamika luar negeri. Salah satu pemicu utama yang disoroti adalah konflik geopolitik yang terjadi di kawasan Selat Hormuz.
Selain konflik tersebut, kondisi nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS menjadi beban berat bagi korporasi. CORE memproyeksikan situasi akan semakin sulit jika nilai tukar menembus angka Rp17.400.
Ringkasan proyeksi dampak ekonomi terhadap operasional perusahaan:
| Kenaikan Harga Bahan Baku | Estimasi Pemangkasan Output | Skenario Dampak |
|---|---|---|
| Di atas 1,5 Persen | 0,1 Persen | Skenario Moderat |
| Di bawah 1,5 Persen | 0,01 Persen | Skenario Ringan |
| Depresiasi Rupiah Ekstrem | 0,15 Persen | Skenario Buruk |
Tabel tersebut menggambarkan bagaimana kenaikan harga input produksi akibat melemahnya mata uang akan memaksa perusahaan mengurangi hasil produksinya. Penurunan output inilah yang kemudian berujung pada pengurangan jumlah karyawan secara massal.
Dampak Terhadap Komposisi Tenaga Kerja Nasional
CORE menjelaskan bahwa jika hambatan di Selat Hormuz berlanjut hingga beberapa bulan ke depan, kelangkaan bahan baku tidak terelakkan. Perusahaan manufaktur akan menjadi pihak pertama yang merasakan lonjakan harga modal produksi.
Situasi ini diprediksi akan mengubah peta ketenagakerjaan di Indonesia secara signifikan. Banyak pekerja formal yang kehilangan jabatan kemungkinan besar akan beralih ke sektor informal untuk tetap bertahan hidup.
Hingga Februari 2026, data menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja di sektor informal telah mencapai 87,74 juta jiwa. Angka tersebut setara dengan 59,42 persen dari seluruh total angkatan kerja aktif yang ada di tanah air.
Kenaikan angka pengangguran akibat badai PHK ini dikhawatirkan akan semakin memperbesar persentase sektor informal tersebut. Hal ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global.