Astronot NASA Abadikan Foto Bumi Terbenam dari Orbit Bulan

Astronot NASA Abadikan Foto Bumi Terbenam dari Orbit Bulan
Foto: Ilustrasi Astronot NASA Abadikan Foto Bumi Terbenam dari Orbit Bulan.

Astronot NASA menggunakan pesawat antariksa Orion untuk mengabadikan fenomena Bumi terbenam atau Earthset dari orbit Bulan pada Senin, 6 April 2026, pukul 18.41 waktu setempat. Gambar tersebut memperlihatkan transformasi signifikan kondisi planet dibandingkan foto ikonik Earthrise yang diambil kru Apollo 8 pada tahun 1968.

Hasil pemotretan terbaru ini menunjukkan detail permukaan Bulan yang kontras dengan tampilan Bumi yang diselimuti awan putih serta lautan biru di atas wilayah Oseania. Dokumentasi ini menjadi catatan visual penting mengenai perubahan lingkungan global selama hampir enam dekade terakhir sebagaimana dilansir dari Detik iNET.

Mantan komandan Apollo 8, Frank Borman, memberikan gambaran kontras mengenai kondisi permukaan satelit alami Bumi tersebut saat pertama kali melihatnya puluhan tahun silam.

"Permukaan bulan rusak parah dipenuhi kawah meteorit dan sisa vulkanik," ungkapnya di wawancara BBC tahun 2018.

Borman menekankan bahwa tidak ada keberagaman warna di sana selain gradasi monokrom yang memberikan kesan gersang.

"Warnanya hanya abu-abu, hitam, atau putih, sama sekali tak ada warna lain di permukaan, kondisinya berantakan tak terbayangkan," katanya.

Pemandangan tersebut berubah drastis ketika pesawatnya menyelesaikan orbit keempat dan memperlihatkan kemunculan Bumi di ufuk Bulan.

"Kami melihat ke atas dan tampak Bumi di latar, muncul di atas permukaan Bulan. Bill Anders kemudian mengambil foto yang mungkin salah satu foto paling bersejarah yang pernah diabadikan manusia," katanya.

Keindahan warna Bumi dari ruang angkasa memberikan kesan mendalam bagi para awak misi Apollo 8 mengenai keistimewaan tempat tinggal manusia.

"Bumi adalah satu-satunya objek di seluruh alam semesta yang punya warna, itu adalah pemandangan luar biasa, kita sangat sangat beruntung bisa tinggal di planet ini," sebutnya dikutip detikINET dari BBC.

Pakar dari Badan Antariksa Eropa (ESA), Craig Donlon, menilai bahwa keterlibatan manusia secara langsung dalam pengambilan foto memberikan dimensi emosional yang kuat bagi penduduk dunia.

"Itu memunculkan semacam emosi yang mengatakan, 'Wah, wow, oke, Bumi tua yang kecil di sana, tapi di situlah kita hidup, itulah segalanya," tuturnya.

Data ilmiah menunjukkan adanya perubahan komposisi atmosfer dan suhu sejak foto pertama diambil hingga kemunculan foto Earthset saat ini. Profesor ilmu iklim Universitas Reading, Richard Allan, mencatat adanya kenaikan gas rumah kaca yang signifikan.

"Sejak Earthrise, karbon dioksida di atmosfer meningkat sekitar sepertiganya dan suhu global memanas dengan cepat, setidaknya 1┬░C," kata Richard Allan, profesor ilmu iklim Universitas Reading, Inggris.

Dampak aktivitas manusia juga terlihat dari perubahan fisik bentang alam yang dapat dipantau dari luar angkasa, termasuk penyusutan sumber air utama.

"Planet ini bertransformasi seiring aktivitas manusia yang mengubah tekstur daratan sebagaimana terlihat dari luar angkasa, seperti perluasan kota, pembukaan hutan lebat yang diganti lahan pertanian yang lebih terang, dan berkontribusi pada mengeringnya Laut Aral yang menyusut hingga kurang dari 10% dari ukurannya di 1960-an," sebutnya.

Kawasan kutub menjadi wilayah yang paling terdampak oleh pemanasan global. Ahli glasiologi Universitas Leeds, Benjamin Wallis, menyoroti hilangnya massa es dalam jumlah besar di Antartika.

"Semenanjung Antartika adalah salah satu bagian Bumi yang memanas tercepat dan 28.000 km paparan es runtuh di antara waktu pengambilan gambar asli dan gambar terbaru," paparnya.

Direktur sains British Antarctic Survey, Petra Heil, menambahkan bahwa siklus salju dan es musiman di berbagai belahan dunia kini mengalami pergeseran jadwal yang mengkhawatirkan.

"Kita melihat beberapa perubahan dramatis," kata Petra Heil, direktur sains di British Antarctic Survey.

Heil menegaskan bahwa mayoritas kerusakan lingkungan yang teramati merupakan hasil langsung dari pola hidup dan aktivitas industri manusia.

"Kita sekarang melihat penurunan drastis tutupan es laut musiman di kedua belahan Bumi dan di Amerika Utara, Eurasia, dan Asia, kita melihat datangnya tutupan salju musiman yang jauh lebih lambat dan juga mencair lebih awal," paparnya.

Berdasarkan pemodelan data, para ilmuwan memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi dalam menentukan penyebab utama kerusakan tersebut.

"Saya rasa kita cukup yakin berdasarkan pengamatan dan juga model numerik untuk menyimpulkan bahwa mungkin 90-95% dari perubahan tersebut diakibatkan aktivitas manusia," ujar Heil.

Meskipun kondisi Bumi saat ini memprihatinkan, sejarah mencatat bahwa gambar-gambar dari luar angkasa sering kali menjadi pemantik gerakan konservasi global. Presiden jaringan Hari Bumi, Kathleen Rogers, melihat potensi inspirasi dari dokumentasi ini.

"Dari kejauhan, Bumi terlihat begitu sempurna dan sangat indah. Namun saat Anda mendekat, Anda bisa melihat kerusakan akibat, sebut saja, kemajuan selama 150 tahun. Tetapi hal itu memang menginspirasi satu generasi untuk mengambil langkah nyata dan menjadi bagian sebuah pergerakan," kata Kathleen Rogers, presiden jaringan Hari Bumi.

Artikel terkait

Rekomendasi