Proses pembentukan galaksi Bimasakti tidak terjadi secara instan melainkan melalui tahap penyerapan berbagai galaksi kerdil di sekitarnya. Jejak dari proses tersebut berhasil diidentifikasi oleh para ilmuwan melalui sisa-sisa bintang kuno yang tertinggal.
Seperti dilansir dari Media Indonesia, tim astronom melaporkan penemuan sampel berisi 20 bintang yang menunjukkan karakteristik serupa. Kelompok bintang ini diduga kuat tumbuh bersama di sebuah galaksi kerdil purba yang dinamakan Loki.
"Kami mungkin telah mendeteksi salah satu dari berbagai sistem kecil yang berkontribusi membentuk Bimasakti kita," ujar Federico Sestito, astronom sekaligus peneliti pascadoktoral di University of Hertfordshire, kepada Space.com melalui email.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society ini menjadi kelanjutan dari riset Sestito sebelumnya. Tim peneliti kini berhasil mendapatkan data kimiawi yang jauh lebih akurat dibandingkan riset terdahulu yang hanya memantau pergerakan bintang.
"Pekerjaan ini bisa dianggap sebagai semacam tindak lanjut dari pekerjaan sebelumnya," kata Sestito.
"Di masa lalu, kami harus melihat bintang-bintang tua ini dengan gerakan yang aneh; namun, kami kekurangan informasi kimiawi, yang sekarang tersedia dalam penelitian ini."
Bintang generasi awal di alam semesta mayoritas hanya terbentuk dari hidrogen dan helium. Bintang-bintang tua ini dikategorikan sebagai objek miskin logam karena sangat sedikit mengandung elemen berat seperti besi.
"Kami berpikir bintang-bintang tua dan miskin logam ini terbentuk di satu galaksi kecil yang tertelan oleh Bimasakti yang sedang terbentuk," jelas Sestito.
Tim peneliti mengombinasikan data kimiawi dengan lokasi dan orbit bintang menggunakan spektroskopi resolusi tinggi serta simulasi teoritis untuk mempersempit analisis.
"Gerakan orbital [bintang-bintang tersebut] terbilang aneh karena mereka terkurung dekat dengan piringan Bimasakti, yang biasanya dipadati oleh bintang-bintang yang lebih muda dan kaya logam," urai Sestito.
Analisis kimia menunjukkan ke-20 bintang tersebut memiliki tanda pengayaan dari supernova energi tinggi, hipernova, dan penggabungan bintang neutron. Namun, tim peneliti tidak menemukan indikasi ledakan katai putih yang menandakan galaksi Loki berusia pendek.
Upaya menemukan fosil galaksi di area piringan Bimasakti menjadi tantangan besar akibat padatnya populasi bintang muda. Sestito tetap optimistis terhadap masa depan arkeologi galaksi meskipun sampel saat ini masih terbatas.
"Meskipun penelitian ini mungkin terbatas dalam jumlah bintang yang diamati, masa depan terlihat sangat cerah," pungkasnya.
"Kita akan memiliki fasilitas spektroskopi multi-objek yang akan memperoleh informasi kimia untuk ribuan bintang. Pada titik itu, kita akan dapat memahami lebih baik sifat-sifat dari banyak komponen penyusun yang membentuk galaksi kita."