Gedung Putih Tuding China Curi Kekayaan Intelektual AI Skala Industri

Gedung Putih Tuding China Curi Kekayaan Intelektual AI Skala Industri
Foto: Ilustrasi Gedung Putih Tuding China Curi Kekayaan Intelektual AI Skala Industri.

Pemerintah Amerika Serikat melalui Gedung Putih secara resmi meluncurkan tudingan terhadap China terkait praktik pencurian kekayaan intelektual dalam bidang kecerdasan buatan (AI) yang dilakukan secara sistematis. Aksi spionase berskala industri tersebut diduga bertujuan untuk menyedot source code dan model AI rahasia milik berbagai perusahaan teknologi ternama Amerika Serikat.

Tuduhan serius ini tertuang dalam memo resmi yang disusun oleh Michael Kratsios, Direktur Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih, sebagaimana dilansir dari Tekno pada Sabtu (25/4/2026). Kratsios memberikan penegasan mengenai adanya upaya pembongkaran kemampuan model frontier AI yang dilakukan secara terstruktur.

"skala industri" kata Michael Kratsios, Direktur Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih.

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa para peretas menggunakan puluhan ribu akun proxy untuk menutupi jejak mereka dari deteksi sistem keamanan. Teknik jailbreaking dikabarkan menjadi alat utama untuk mengekspos informasi hak milik perusahaan, terutama melalui metode distilasi guna melatih model AI yang lebih kecil menggunakan output data dari model rahasia yang lebih canggih.

"distilasi" ujar Michael Kratsios, Direktur Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih.

Gedung Putih kini berkomitmen memperkuat pertahanan nasional dengan membagikan informasi intelijen terkait operasi tersebut kepada pelaku industri AI di dalam negeri. Selain kerugian materiil, Washington mengkhawatirkan pemanfaatan teknologi curian ini untuk menyerang infrastruktur vital seperti jaringan listrik dan sistem komunikasi publik di masa depan.

Tudingan ini muncul di tengah ketegangan diplomatik menjelang rencana pertemuan Presiden Donald Trump dengan Presiden Xi Jinping di Beijing. Menanggapi hal tersebut, otoritas China melalui juru bicaranya memberikan bantahan keras dan menyebut klaim Amerika Serikat sebagai tindakan manipulasi politik.

"fitnah murni" tegas Liu Pengyu, Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington.

Pihak Beijing mengklaim bahwa mereka selalu menghargai perlindungan kekayaan intelektual dalam setiap kemajuan ilmiah yang dicapai. Menurut Liu Pengyu, tuduhan yang dilontarkan pihak Amerika Serikat tidak memiliki dasar yang kuat dan merupakan upaya untuk merusak reputasi China di kancah teknologi global.

Artikel terkait

Rekomendasi