Ancol Gelar Tender Reklamasi 65 Hektare Senilai Rp6 Triliun

Ancol Gelar Tender Reklamasi 65 Hektare Senilai Rp6 Triliun
Foto: Ilustrasi Ancol Gelar Tender Reklamasi 65 Hektare Senilai Rp6 Triliun.

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) tengah melaksanakan proses tender untuk proyek reklamasi di kawasan Ancol dengan nilai investasi mencapai Rp5 hingga Rp6 triliun. Seperti diberitakan oleh Investortrust, pendanaan proyek ini akan dibiayai sepenuhnya oleh mitra strategis tanpa menggunakan belanja modal internal perusahaan.

Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk Syahmudrian Lubis mengungkapkan bahwa calon mitra yang disasar meliputi sektor properti, rekreasi, dan industri pertanahan. Pihak perseroan telah mengumpulkan sejumlah investor dari berbagai negara untuk disaring sesuai dengan strategi bisnis perusahaan.

Pria yang akrab disapa Ian ini menyebutkan bahwa penentuan mitra dilakukan melalui mekanisme tender yang ketat dengan menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik, manajemen risiko, serta business judgment rule.

Rencana awal proyek reklamasi ini sempat dirancang menggunakan anggaran belanja modal perusahaan. Namun, tingginya minat investor asing yang menawarkan model bisnis berbagi membuat Ancol mengubah strategi guna mengurangi beban keuangan internal.

Melalui perubahan pendekatan tersebut, perseroan menerapkan sistem kompetisi beauty contest. Dalam mekanisme ini, para investor bersaing memberikan penawaran terbaik berupa skema land sharing, business sharing, atau model kerja sama lain yang saling menguntungkan.

Saat ini sudah ada 16 perusahaan dari dalam negeri maupun luar negeri, termasuk asal Eropa, China, dan Korea, yang tertarik bergabung. Seluruh peserta tender akan diseleksi untuk menyaring satu investor terbaik.

"Dari 16 itu akan kita pilih satu yang memberikan nilai terbaik bagi Ancol. Kalau belum optimal, proses seleksi bisa diulang," ujar Syahmudrian Lubis setelah RUPST PJAA di Putri Duyung Ancol, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Model kerja sama yang diterapkan bukan berbasis pembagian pendapatan, melainkan pembagian lahan atau land sharing. Proyek pengurukan lahan ini berlokasi di pantai barat Ancol dengan luas sekitar 65 hektare yang membentang dari Marina hingga ke sisi utara.

Area baru tersebut akan difungsikan untuk kawasan bisnis, fasilitas publik, relokasi marina, hingga pusat wisata baru. Selain reklamasi, Ancol juga menggenjot pengembangan konsep gaya hidup untuk mendongkrak daya tarik kawasan dengan menghadirkan beach club di eks Segara.

"Kita akan mengaktifkan kembali yang namanya night entertainment disini. Sehingga saat ini kan Ancol dia punya paling malam itu mungkin jam 9 malam, itu pun kalau kita datang ke Bandar Djakarta. Nah kita ingin mengaktifkan itu dengan menghadirkan kita ada kerjasama untuk beach club," kata Syahmudrian Lubis.

Kawasan ini nantinya bakal dipadukan dengan fasilitas olahraga seperti lapangan padel dan konsep wellbeing.

"Kalau disini dia bisa enjoy yang namanya itu laut, sambil dia berkumpul dengan teman-temannya. Ini ada suatu pengalaman baru yang tidak bisa dimiliki oleh yang lain," tutur Syahmudrian Lubis.

Terkait kinerja keuangan, pendapatan Ancol saat ini berada di angka Rp1,1 triliun hingga Rp1,2 triliun per tahun. Perseroan memproyeksikan pendapatan mampu tumbuh hingga 50% dalam dua tahun mendatang melalui proyek strategis ini, walau target tersebut belum masuk secara resmi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan.

"Banyak investor yang menawarkan untuk membangun bersama dengan skema berbagi bisnis. Ini menjadi peluang baru bagi Ancol," ujar Syahmudrian Lubis.

Proyek reklamasi ini merupakan program lama yang disesuaikan kembali strateginya demi meningkatkan efisiensi dan nilai tambah perseroan. Manajemen menargetkan pengumuman tender dapat dirilis dalam waktu dekat untuk mempercepat realisasi ruang ekonomi baru di Jakarta.

Artikel terkait

Rekomendasi