Dunia usaha kini menghadapi persoalan serius akibat ancaman siber berbasis kecerdasan buatan (AI) yang berkembang sangat pesat. Kecepatan serangan digital ini dilaporkan telah melampaui kemampuan deteksi sistem keamanan tradisional yang ada saat ini.
Penggunaan teknologi deepfake untuk penipuan transaksi menjadi salah satu ancaman yang menunjukkan kenaikan tajam, seperti dikutip dari Detik iNET. Tren industri memproyeksikan adanya lonjakan serangan jenis ini hingga mencapai 162% pada tahun 2025 mendatang.
Selain itu, serangan injeksi digital yang berfungsi menyusupkan video deepfake ke sistem verifikasi mengalami peningkatan drastis. Pada perangkat tertentu, laporan mencatat kenaikan hingga 1.151%, yang menandakan kerentanan besar pada sistem keamanan konvensional.
Situasi ini semakin diperparah dengan kehadiran automated bot generasi baru yang mampu meniru perilaku manusia secara akurat. Bot tersebut memiliki tingkat keberhasilan menembus sistem keamanan hingga di atas 85%, sehingga pendekatan keamanan yang bersifat reaktif dianggap tidak lagi relevan.
Para pelaku industri kini didorong untuk meninggalkan metode keamanan lama yang hanya sebatas "memasang pagar". Keamanan siber harus dibangun sebagai ekosistem terintegrasi yang mencakup perlindungan identitas, data, hingga aplikasi secara menyeluruh.
Managing Director PT Dymar Jaya Indonesia, Yuliani Kusnadi, memberikan penekanan bahwa perubahan pendekatan ini sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak bagi perusahaan.
"Di era di mana ancaman bisa datang dari sisi mana saja, sinergi antara identitas, data, dan aplikasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Melalui DCC 2026, kami membawa teknologi kelas dunia yang tidak hanya reaktif, tapi proaktif dalam menjaga ketahanan digital perusahaan," ujar Yuliani Kusnadi.
Salah satu arah keamanan modern adalah penerapan teknologi tanpa kata sandi atau passwordless. Penggunaan phishing-resistant multi-factor authentication (MFA) berbasis FIDO2 dinilai efektif memutus rantai pencurian identitas yang menjadi pintu masuk pembobolan data.
Fokus perlindungan juga mulai diarahkan pada aplikasi, terutama di sektor finansial yang sering menjadi sasaran malware. Serangan kini tidak hanya menyasar jaringan, tetapi juga melakukan manipulasi sistem pada perangkat yang telah di-root atau jailbreak.
Tantangan keamanan digital saat ini meluas hingga ke rantai pasok dan pihak ketiga. Risiko kebocoran data tidak hanya muncul dari faktor internal, tetapi juga melibatkan vendor, mitra strategis, hingga kesalahan manusia (human error).
Visibilitas terhadap risiko pihak ketiga dan kepatuhan terhadap regulasi, seperti UU Perlindungan Data Pribadi (PDP), menjadi hal yang sangat krusial. Industri mulai mengembangkan solusi enkripsi data yang siap menghadapi era komputasi kuantum serta pemantauan risiko secara real-time.
Langkah nyata dalam menjawab tantangan ini ditunjukkan melalui penyelenggaraan Dymar Cybersecurity Conference (DCC) 2026 di Jakarta pada 22 April 2026. Forum tersebut menjadi ajang pengenalan berbagai solusi keamanan data terbaru hasil kolaborasi dengan mitra global.
Bersama Thales, Sophos, eMudhra, dan Blancco, PT Dymar Jaya Indonesia menegaskan pentingnya membangun ekosistem keamanan siber yang resilien. Hal ini bertujuan untuk menghadapi ancaman AI dan fraud yang terus berkembang secara dinamis di masa depan.