Ancaman AI Deepfake di Indonesia Melonjak Hingga 162 Persen

Ancaman AI Deepfake di Indonesia Melonjak Hingga 162 Persen
Foto: Ilustrasi Ancaman AI Deepfake di Indonesia Melonjak Hingga 162 Persen.

Sektor korporasi di Indonesia menghadapi ancaman serius dari serangan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) yang tercatat melampaui kemampuan sistem pertahanan konvensional. Fenomena ini terungkap dalam perhelatan Dymar Cybersecurity Conference (DCC) 2026 yang berlangsung pada Kamis (23/4/2026).

Data yang dilansir dari Bisnis.com menunjukkan adanya lonjakan serangan deepfake untuk penipuan transaksi hingga 162 persen sepanjang tahun 2025. Selain itu, insiden injeksi digital pada perangkat tertentu mengalami ledakan frekuensi hingga 1.151 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Metode serangan terbaru memungkinkan pelaku memasukkan video manipulatif secara langsung ke dalam protokol verifikasi sistem. Kondisi ini diperparah dengan kemunculan bot otomatis generasi baru yang mampu meniru perilaku manusia dengan akurasi tinggi, sehingga memiliki tingkat keberhasilan menembus barikade keamanan di atas 85 persen.

Managing Director Dymar Jaya Indonesia, Yuliani Kusnadi, menyoroti ketidaksiapan infrastruktur banyak perusahaan dalam memantau risiko saat mengadopsi teknologi kecerdasan buatan. Menurutnya, tanpa kontrol otomatis dan visibilitas waktu nyata, pemanfaatan AI justru berpotensi memicu kebocoran data sensitif yang merugikan perusahaan.

"Pada era di mana ancaman bisa datang dari sisi mana saja, sinergi antara identitas, data, dan aplikasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan," kata Yuliani Kusnadi, Managing Director Dymar Jaya Indonesia.

Kerapuhan sistem juga terdeteksi pada aplikasi keuangan berbasis mobile akibat malware canggih yang mampu mengeksploitasi perangkat hasil modifikasi seperti root atau jailbreak. Hal ini menyebabkan aplikasi perbankan menjadi sangat rentan terhadap manipulasi yang berjalan di latar belakang sistem operasi.

Senior Technology Consultant Sophos Indonesia, Sunu Diwangkara, menekankan pentingnya integrasi berbagai lapisan perlindungan mulai dari endpoint hingga jaringan dalam sebuah ekosistem keamanan adaptif. Pendekatan ini bertujuan mempercepat deteksi ancaman dan memungkinkan respons otomatis yang lebih efektif pada sistem yang selama ini terfragmentasi.

Konferensi DCC 2026 menyimpulkan bahwa strategi pertahanan statis tidak lagi memadai untuk membendung ancaman modern. Industri kini diarahkan untuk membangun ekosistem resilien, termasuk penggunaan Phishing-Resistant MFA (FIDO2) serta penerapan enkripsi yang siap menghadapi era komputasi kuantum di masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi