Alasan Ilmiah Lantai Masjidil Haram Tetap Dingin Meskipun Cuaca Ekstrem

Alasan Ilmiah Lantai Masjidil Haram Tetap Dingin Meskipun Cuaca Ekstrem
Foto: Ilustrasi Alasan Ilmiah Lantai Masjidil Haram Tetap Dingin Meskipun Cuaca Ekstrem.

Ribuan hingga jutaan umat Muslim yang memadati Masjidil Haram setiap tahun kerap merasakan kenyamanan saat berjalan di area tawaf. Meski cuaca di Makkah tergolong sangat ekstrem, lantai putih di sekeliling Ka'bah tidak menyengat kaki dan tetap terasa sejuk.

Sebagian orang berspekulasi adanya teknologi pendingin tersembunyi di bawah lantai masjid atau aliran air khusus. Seperti dilansir dari Kompas, rasa sejuk tersebut rupanya bersumber dari jenis batu marmer spesifik yang melapisi permukaan pelataran.

Pelataran di sekitar Ka'bah menggunakan marmer Thassos, yaitu batu alam premium yang didatangkan dari Pulau Thassos di Yunani bagian timur. Batu alam ini memiliki reputasi tinggi karena warna putih cerah yang khas serta kemampuan optimal dalam memantulkan cahaya matahari.

Karakteristik unik tersebut membuat marmer Thassos tidak mudah menyerap panas layaknya batuan biasa. Permukaannya dapat mempertahankan suhu rendah yang relatif dingin dibandingkan material lain, walaupun terpapar sinar matahari langsung selama berjam-jam.

Kemampuan proteksi panas ini menjadi alasan utama pemilihan marmer Thassos untuk area suci. Lokasi ini dipadati jamaah setiap hari, terutama saat musim haji dan umrah ketika suhu udara luar mampu menembus angka di atas 50 derajat Celcius.

Pemerintah Arab Saudi mengimpor marmer dolomit ini secara khusus demi menjaga kenyamanan para jamaah yang beribadah tanpa alas kaki. Penggunaan marmer premium ini diterapkan di dua masjid suci, yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Batu asal Yunani ini juga memiliki nilai sejarah tinggi dan telah diaplikasikan pada berbagai bangunan penting dunia selama ratusan tahun. Beberapa di antaranya meliputi makam kuno Makedonia di Amphipolis hingga bangunan bersejarah Hagia Sophia.

Selain situs bersejarah, marmer Thassos marak diaplikasikan pada hunian mewah serta dekorasi kelas premium karena tampilan eksklusifnya. Harga jual material alam ini tergolong tinggi karena dapat mencapai ratusan dolar AS per meter persegi.

Mekanisme Penyerapan Kelembapan Udara

Fares Al-Saedi selaku pejabat urusan teknis dan pemeliharaan Dua Masjid Suci mengonfirmasi keunggulan alami material ini. Beliau menjelaskan marmer Thassos memiliki sifat alami yang mampu mempertahankan suhu rendah di tengah paparan panas ekstrem.

Setiap lempengan marmer yang dipasang memiliki ketebalan sekitar lima sentimeter. Batuan tersebut bekerja aktif menyerap kelembapan udara melalui pori-pori kecilnya pada malam hari, lalu melepaskannya secara perlahan saat siang hari guna menjaga kesejukan permukaan.

Tim teknisi dan insinyur melakukan perawatan area lantai masjid tanpa henti selama 24 jam demi mempertahankan kualitasnya. Proses penggantian lempengan marmer dilakukan secara berkala apabila daya pendinginan alaminya mulai menurun.

Uji Ilmiah Kemampuan Menghalau Panas

Keunggulan struktur batuan ini telah dibuktikan melalui sejumlah penelitian ilmiah. Salah satu studi dalam jurnal Construction and Building Materials tahun 2021 memaparkan bahwa marmer Thassos mempunyai tingkat pantulan sinar matahari yang tinggi.

Studi tersebut juga mencatat marmer ini memiliki kemampuan menghantarkan panas yang lebih baik daripada batu kapur biasa. Karakteristik ini membuat sebagian besar panas matahari langsung dipantulkan kembali sehingga suhu permukaan tidak melonjak drastis.

Penelitian lain dalam Arabian Journal of Geosciences tahun 2018 turut memperkuat temuan tersebut. Hasil studi menyebutkan marmer Thassos merupakan material alami yang efektif mereduksi panas karena faktor struktur kristal dan tingkat kemurnian warna putihnya yang tinggi.

Sejarah Pemasangan Marmer di Area Tawaf

Penggunaan batuan di area mataf sebenarnya telah diinisiasi sejak masa kepemimpinan Umar bin Khattab. Pelapisan batu dan marmer di pelataran tawaf terus berkembang seiring proyek perluasan masjid dari masa ke masa.

Pelataran di sekitar Ka'bah mulai dilapisi marmer pada era Al-Walid bin Abd al-Malik. Tradisi arsitektur ini kemudian dipertahankan dan diteruskan pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah hingga era Kesultanan Ottoman.

Modernisasi berskala besar baru terealisasi pada tahun 1978 di era Khalid bin Abdulaziz melalui pemasangan marmer tahan panas asal Yunani secara masif. Langkah ini diambil guna mengantisipasi lonjakan jumlah jamaah yang datang ke tanah suci.

Pengembangan area kembali berlanjut pada masa pemerintahan Fahd bin Abdulaziz di pertengahan dekade 1980-an. Proyek tersebut memperluas area pemasangan marmer putih dingin di sekeliling Ka'bah hingga mencakup halaman luar masjid.

Program renovasi dan peremajaan lantai pelataran ini terus dipertahankan hingga masa pemerintahan Salman bin Abdulaziz. Kebijakan ini menjadi bagian integral dari proyek pengembangan megah Dua Masjid Suci.

Artikel terkait

Rekomendasi