Krisis iklim memicu cuaca ekstrem yang meningkatkan ancaman bencana tanah longsor secara signifikan. Curah hujan tinggi dalam durasi lama menyebabkan tanah jenuh air sehingga lereng kehilangan kemampuan menahan beban.
Kemajuan teknologi terbaru kini berperan vital dalam meminimalkan risiko bencana tersebut melalui perencanaan penanggulangan yang lebih akurat. Dilansir dari Lestari, penggunaan kecerdasan buatan atau AI menjadi solusi untuk mengurai dinamika kompleks penyebab tanah longsor.
Para ilmuwan memanfaatkan AI untuk menganalisis data historis lokasi longsor serta kondisi lingkungan yang mendasarinya. Pertumbuhan pesat citra satelit menyediakan kumpulan data luas yang dibutuhkan untuk memperjelas gambaran titik rawan nasional.
Teknologi ini juga mempermudah proses pemetaan topografi, penggunaan lahan, hingga pengukuran kerusakan pasca-bencana. Algoritma pembelajaran mesin bekerja mempelajari hubungan antar data untuk membangun model antisipasi longsor akibat hujan.
Pengembangan model yang dipadukan dengan prakiraan curah hujan menghasilkan peta bahaya sesuai permintaan. Peta ini digunakan untuk menilai kerentanan wilayah di bawah berbagai skenario iklim masa depan.
Penelitian terbaru mengkaji interaksi antara hujan ekstrem dengan lereng di Selandia Baru saat ini dan perubahannya di masa depan. Temuan awal menunjukkan perluasan wilayah rentan longsor seiring peningkatan emisi gas rumah kaca.
"Penelitian saya saat ini menggunakan pendekatan-pendekatan tersebut untuk mengkaji bagaimana curah hujan ekstrem berinteraksi dengan lereng-lereng di Selandia Baru saat ini, dan bagaimana hubungan tersebut dapat berubah di bawah krisis iklim," ujar Senior Research Fellow Antarctic Research Centre, Oliver Wigmore.
Krisis iklim diprediksi membuat bencana hidrometeorologi ini terjadi lebih sering. Oleh karena itu, kemampuan memprediksi titik bencana menjadi kunci utama dalam mencegah timbulnya korban jiwa setiap tahun.
Kemampuan Prediksi Melalui Citra Satelit
AI memungkinkan para ahli geologi mengidentifikasi ribuan lereng berisiko tinggi di seluruh dunia yang sebelumnya sulit dipantau. Meskipun tampak mendadak, data satelit sebenarnya menyimpan tanda-tanda pergerakan tanah yang tidak terbaca manusia.
Sinyal pergerakan tanah tersebut dapat terdeteksi melalui bantuan AI dalam hitungan hari, minggu, bahkan tahun sebelum longsor terjadi. Analisis manual terhadap data besar citra satelit dinilai mustahil dilakukan oleh manusia biasa.
"Menganalisisnya secara manual akan 'di luar kemampuan manusia'. Untungnya, bentuk-bentuk AI yang sudah mapan seperti pembelajaran mesin dapat melakukan pekerjaan ini," tutur Antoinette Tordesillas, ahli matematika di Universitas Melbourne.