Ancaman Siber Meningkat AI Jadi Mitra Strategis Keamanan Digital

Ancaman Siber Meningkat AI Jadi Mitra Strategis Keamanan Digital
Foto: Ilustrasi Ancaman Siber Meningkat AI Jadi Mitra Strategis Keamanan Digital.

Integrasi kecerdasan buatan (AI) menjadi elemen krusial dalam menghadapi lonjakan serangan siber yang terus meningkat secara signifikan di Indonesia. Sebagaimana dilansir dari Detik iNET, teknologi ini diposisikan sebagai mitra strategis operasional keamanan digital guna menangani beban kerja repetitif pada Kamis (23/4/2026) di Jakarta.

Data menunjukkan adanya eskalasi ancaman yang drastis, di mana sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 5,5 miliar serangan siber. Sementara itu, pada periode Januari hingga Maret 2026, jumlah serangan sudah menyentuh angka 1,5 miliar kasus.

General Manager Virtus, Wisnu Nursahid, menekankan pentingnya adopsi teknologi cerdas untuk efisiensi sumber daya manusia dalam ekosistem digital. Menurutnya, pemanfaatan teknologi ini memungkinkan tenaga ahli fokus pada aspek analisis mendalam.

"Jadi, kalau dimaknai secara positif, AI merupakan mitra kerja kita, terutama untuk menangani pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya repetitif dan otomatis. Dengan begitu, manusia bisa lebih fokus pada hal-hal yang membutuhkan analisis dan pengambilan keputusan," ujar Wisnu Nursahid, General Manager Virtus.

Eskalasi ancaman di dalam negeri menjadi alasan utama perlunya penguatan sistem keamanan siber yang lebih tangguh. Wisnu memberikan perbandingan data statistik serangan yang terjadi dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

"Kembali ke poin sebelumnya, kita perlu fokus pada keamanan di Indonesia serta berbagai jenis pekerjaan yang terkait. Berdasarkan data yang sempat saya sampaikan, pada tahun 2025 terdapat sekitar 5,5 miliar serangan. Sementara itu, pada tahun 2026, baru kuartal pertama saja sudah mencapai sekitar 1,5 miliar serangan," jelas Wisnu Nursahid, General Manager Virtus.

Identifikasi terhadap pola serangan yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan juga menjadi agenda mendesak. Analisis ini dianggap penting untuk memetakan kompleksitas ancaman siber masa kini.

"Menarik jika kita bisa mengategorikan dari seluruh serangan tersebut, mana yang merupakan AI-driven attack. Ini bisa menjadi bahan analisis yang penting. Mungkin data dari Red Intelligence jika dikombinasikan dengan data dari BSSN dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai landscape serangan, khususnya yang berbasis AI," kata Wisnu Nursahid, General Manager Virtus.

Meski demikian, hingga saat ini belum tersedia data statistik yang pasti mengenai persentase serangan yang digerakkan oleh AI. Dibutuhkan alur kerja yang lebih ketat untuk mendapatkan akurasi data tersebut.

"Namun, hingga saat ini kami sendiri belum memiliki data yang benar-benar pasti terkait proporsi serangan berbasis AI tersebut. Kemungkinan, data yang lebih detail bisa diperoleh dari platform intelligence yang memang memiliki kapabilitas pengumpulan dan analisis data yang lebih komprehensif. Untuk itu, proses kategorisasi dan workflow perlu dibuat lebih rigid agar menghasilkan data yang lebih akurat," papar Wisnu Nursahid, General Manager Virtus.

Ketahanan organisasi terhadap serangan siber tidak hanya bergantung pada alat, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia. Wisnu merinci bahwa faktor manusia memegang porsi keberhasilan yang cukup besar.

"Pertama adalah people (sumber daya manusia). Sekitar 40% keberhasilan ketahanan sebuah organisasi ditentukan oleh faktor manusia. Oleh karena itu, integrasi pemahaman dan pemanfaatan AI pada SDM harus terus ditingkatkan, karena kontribusinya sangat besar," ungkap Wisnu Nursahid, General Manager Virtus.

Selain faktor manusia, pembangunan Security Operations Center (SOC) yang terintegrasi menjadi langkah teknis yang wajib diambil oleh organisasi. Sistem ini harus mencakup aspek proses dan teknologi secara menyeluruh.

"Kedua adalah dari sisi teknologi. Sebagai contoh, dalam konteks Security Operations Center (SOC), tentu semua organisasi ingin memiliki sistem yang lengkap dan terintegrasi, baik dari sisi people, process, maupun technology," tambah Wisnu Nursahid, General Manager Virtus.

Implementasi sistem SOC modern kini mulai mengadopsi berbagai komponen canggih seperti perlindungan titik akhir dan deteksi jaringan. Layanan Managed Detection and Response (MDR) juga menjadi bagian dari upaya penguatan keamanan digital tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi