Aktivitas ekonomi digital di Indonesia mengalami lonjakan pesat yang mempermudah transaksi keuangan masyarakat. Namun, dikutip dari Media Indonesia, pertumbuhan ini diiringi oleh ancaman kejahatan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mengancam stabilitas ekosistem keuangan nasional.
Volume transaksi pembayaran digital terus menunjukkan tren positif berdasarkan data Bank Indonesia. Kendati demikian, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) juga mencatat peningkatan risiko serangan siber yang berjalan selaras dengan pertumbuhan tersebut.
| Indikator | Data / Statistik |
|---|---|
| 14,82 Miliar Transaksi | Meningkat 37,69% |
| 5,2 Miliar Trafik | 94% Berisiko Tinggi (Ransomware) |
Merespons tantangan ini, Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) berkolaborasi dengan PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin) serta didukung oleh BPC. Sinergi ini diwujudkan melalui forum diskusi bertajuk "Protection in Action: Strengthening Fraud Resilience Across Ecosystem" pada Kamis (21/5) di Jakarta untuk memperkuat sistem pembayaran digital.
Wakil Ketua Umum II AFTECH, Budi Gandasoebrata, menyatakan bahwa pelaku industri saat ini wajib memiliki ketangguhan selain mengejar pertumbuhan yang cepat.
"Keamanan, ketahanan infrastruktur, dan manajemen risiko adalah fondasi utama. Dalam konteks ini, Fraud Detection System (FDS) bukan lagi sekadar fitur pendukung, melainkan infrastruktur krusial bagi industri keuangan digital," ujar Budi.
Kepala Direktorat Pembelaan Hukum Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tri Herdianto, ikut menyoroti urgensi mitigasi fraud seiring meluasnya pemakaian e-wallet dan QRIS. Kesiapan industri dalam menghadapi fraud menjadi elemen vital untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat.
"Perlindungan konsumen dan ketahanan terhadap fraud merupakan tanggung jawab bersama untuk memastikan keberlanjutan bisnis di sektor jasa keuangan," kata Tri.
Jalin, sebagai digital enabler nasional yang bernaung di bawah Holding BUMN Danareksa, mengusung pendekatan keamanan kolektif lewat optimalisasi shared services. Direktur Utama Jalin, Ario Tejo Bayu Aji, menyebutkan bahwa model ini mampu memicu efisiensi operasional sekaligus menstandardisasi kualitas keamanan.
"Model ini memberikan ruang bagi pelaku industri untuk tetap fokus pada pengembangan inti bisnis, sementara fondasi keamanannya dikelola secara profesional dan terkoordinasi untuk menekan risiko sistemik," jelas Ario.
Para peserta forum juga menguji simulasi sistem FDS yang mengintegrasikan data lintas ekosistem melalui sesi Expert Lab. Lewat sistem yang mendeteksi interaksi data secara berkelanjutan, AFTECH dan Jalin mengupayakan pembentukan kecerdasan kolektif guna mengantisipasi serangan siber berbasis AI.