Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan kekhawatirannya atas konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang tak kunjung usai pada Rabu (22/4/2026). Zelenskyy menilai situasi tersebut menjadi penghambat besar dalam upaya penyelesaian perang antara Ukraina melawan Rusia yang masih berlangsung hingga saat ini.
Keterbatasan fokus dari pihak Washington menjadi alasan utama terhambatnya pembicaraan perdamaian bagi Kyiv. Dilansir dari Kompas, Zelenskyy menegaskan bahwa risiko besar muncul terhadap upaya resolusi pertempuran di Ukraina karena perhatian internasional tersedot pada ketegangan di Timur Tengah tersebut.
Meskipun komunikasi teknis dengan pihak Amerika Serikat terus berjalan, Zelenskyy mengaku belum melihat peluang untuk menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan otoritas Washington. Penantian ini berkaitan erat dengan penugasan tim negosiator Amerika Serikat, Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang saat ini memimpin pembicaraan terkait perang di Iran.
Pemimpin Ukraina tersebut mengingatkan bahwa meski Amerika Serikat memiliki prioritas lain, kondisi di negaranya tetap merupakan sebuah tragedi besar yang membutuhkan penanganan segera. Ia menolak gagasan untuk menunda pembahasan mengenai kedaulatan negaranya demi kepentingan konflik lain.
"Ukraina bukanlah ÔÇÿnanti duluÔÇÖ. Ukraina sudah menjadi tragedi besar, kami harus mencari cara untuk mengatasinya secara paralel," ucap Zelenskyy.
Penegasan tersebut disampaikan Zelenskyy guna menekankan bahwa pencarian solusi diplomatik harus tetap berjalan beriringan dengan isu global lainnya. Selain hambatan diplomatik, gangguan pada rantai pasokan persenjataan menjadi dampak nyata yang dirasakan militer Ukraina akibat eskalasi di Iran.
Zelenskyy mengungkapkan bahwa pasokan alutsista vital, terutama rudal anti-balistik, kini mengalami gangguan yang signifikan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kapasitas produksi di Amerika Serikat yang harus membagi sumber dayanya ke berbagai titik konflik.
"Ukraina bukanlah ÔÇÿnanti duluÔÇÖ. Ukraina sudah menjadi tragedi besar, kami harus mencari cara untuk mengatasinya secara paralel," ucap Zelenskyy.
Di tengah tantangan tersebut, Ukraina baru saja menerima dukungan finansial dari Uni Eropa berupa pinjaman sebesar 90 miliar euro atau berkisar Rp1.500 triliun. Presiden Zelenskyy menyatakan dana pinjaman tersebut sangat krusial bagi kelangsungan hidup dan upaya pertahanan negaranya menghadapi tekanan Rusia.