Kontroversi baru menyelimuti pemutaran film dokumenter investigatif berjudul Pesta Babi. Konten kreatif yang menyoroti dampak proyek pangan skala besar di Papua Selatan ini menuai protes keras dari salah satu tokoh perempuan adat setempat.
Yasinta Moiwen yang berusia 61 tahun, seorang warga dari Distrik Ilwayab, Kampung Wogekel, Kabupaten Merauke, menyatakan kekecewaan mendalam. Wajah beserta suaranya diduga telah dicatut tanpa adanya izin maupun konfirmasi yang jelas dari pihak pembuat sinema tersebut.
Kekecewaan publik ini mulai mencuat setelah sebuah rekaman video pendek tersebar luas di platform X, seperti yang dilansir dari Suara. Perempuan kelahiran 1964 ini mengaku terkejut saat melihat identitasnya terpampang ketika karya audiovisual tersebut diputar di wilayah Jayapura.
"Itu tanpa izin dari saya, tanpa pengetahuan dari saya. Saya kaget waktu di Jayapura mereka putar, nama saya ditampilkan di depan," ujar Yasinta.
Penggunaan hak serta identitas pribadi yang dianggap sepihak ini memicu kemarahan Yasinta. Dirinya kemudian mempertanyakan aspek moralitas dan etika profesi dari para sineas yang memproduksi tayangan dokumenter tersebut.
"Apa saya ini boneka atau ukiran Asmat yang ditampilkan tanpa pengetahuan saya, tanpa izin dari saya? Jadi saya kecewa di situ sudah, sampai sekarang ini," lanjutnya.
Secara substansi, Pesta Babi mengupas problematika sosial sekaligus kelestarian lingkungan akibat pembukaan lahan perkebunan masif di Merauke. Judul karya ini merujuk pada tradisi bakar batu yang melambangkan kemandirian pangan serta kebersamaan masyarakat adat setempat.
Kendati demikian, Yasinta menegaskan secara lisan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah terlibat dalam proses wawancara khusus yang ditujukan untuk produksi film bertema pangan tersebut.
"Saya tidak diwawancara, mereka yang buat. Saya tidak buat itu wawancara untuk Pesta Babi. Saya tidak tahu, saya sumpah demi Tuhan saya tidak tahu mereka buat itu film Pesta Babi," tegas Yasinta.
Lebih lanjut, tokoh perempuan adat ini merasa keberadaan dirinya hanya dimanfaatkan untuk kepentingan sepihak oleh kreator maupun lembaga swadaya masyarakat. Dia memaparkan realitas bahwa mobilisasi dirinya ke berbagai kota besar tidak linier dengan perbaikan kesejahteraan di daerah asalnya.
"Saya pulang balik ke Jakarta berapa kali, enam kali tahun lalu. Ke Bogor, ke Makassar tiga kali, Jayapura dua kali. Tapi apa yang saya dapat? Cuma dapatnya capek. Tidak pernah dapat bantuan. Saya sudah sampaikan saya punya rumah tidak layak. Baru saja berapa Minggu yang lalu saya minta beli HP saja sampai hari ini," keluh Yasinta.
Klarifikasi terbuka dari Yasinta ini seketika memicu polarisasi pandangan di kalangan netizen. Sebagian kelompok menyayangkan tindakan tim produksi film, sedangkan kelompok lain menilai pernyataan tersebut perlu dicermati secara hati-hati mengingat tingginya tekanan politik seputar isu agraria di Papua Selatan.